Sisa Catatan: Power Engineering Student

Lebih kurang, sudah enam bulan (pasca lulus) plus enam bulan (untuk TA) aku tidak mendapatkan kuliah di kelas. Walau begitu, ada beberapa pengulangan materi pada momen-momen tertentu. Setelah itu? Tersisa catatan-catatan ini, yang aku dapat dari luar ruang kuliah, disamping banyak e-book, sofcopy kuliah dan beberapa buku cetak yang tersusun rapi di lemari rumah.

Semoga bermanfaat! Dan jangan lupa beri komentar jika ada catatan saya yang salah ­čÖé

Pembangkitan

IMG_0001zIMG_0002zIMG_0003zIMG_0004zIMG_0005zIMG_0006zIMG_0007z


Mesin Listrik

IMG_0001

IMG_0002IMG_0003IMG_0004IMG_0005IMG_0006


Renewable Energy

IMG_0001xIMG_0002xIMG_0003xIMG_0004x

IMG_0002 (2)x


Miscellaneous & Policy

IMG_0001cIMG_0003cIMG_0004cIMG_0005c

Iklan

Allah Telah Mengatur Sangat Indah Hidup Kita!

Ini adalah post penutup setelah rangkaian post yang aku tulis sebelum ini. Alhamdulillah, dari 6 bulan┬á(oktober – maret) perjalanan ke pelbagai kota, aku belajar banyak hal.

Menghadapi situasi anomali kehidupan yang jauh berbeda dari daily routine kampus. Interview dengan pelbagai karakter orang. Dan tentunya jalan-jalan serta rel-rel yang aku lewati selama perjalanan, aku sadar banyak hal. Satu yang terpenting adalah bahwa Allah telah mengatur sangat indah kehidupan kita.

Aku belajar, bahwa ternyata, usaha manusia itu sangat kecil dibanding kehendak Allah, tidak ada kekuatan, sangat tipis, bahkan lebih tipis dari kulit ari. Teringat betapa lisan ini tidak bisa mengontrol penuh saat interview, sehingga aku gagal. Atau ketika hal-hal sebelum tes kerja dan MCU yang membuatku gagal. Atau ketika sedikit saja sakit yang Allah beri sebagai peringatan, kita sudah tidak bisa berbuat banyak. Atau ketika tiba-tiba hari-hari yang telah kita susun berubah drastis karena suatu hal. Banyak hal yang ternyata tidak kita harapkan terjadi, namun yang harus diingat adalah, Allah telah mengatur sangat indah hidup kita!

Sekarang, lebih kurang satu bulan aku menetap di Cilegon. Dan inilah tempat terbaik yang Allah beri kepadaku. Barangkali aku akan menghabiskan waktu kedepan di sini. Sesekali main ke ibu kota, travelling, atau pulang bertemu Ibu dan Raihan. Tika? Ah, aku rindu dia.

Tersisa hari-hari yang penuh dengan target baru. Menyelesaikan misi jangka pendek, menengah, dan panjang yang telah disusun. Bismillah. Semoga Allah terus bersama kita, membimbing kita terus berada di jalan yang haq hingga maut memisahkan kita dengan dunia. Aamiin.

(Lagi) Rezeki Allah itu Sangat Luas!

April 2018. Cilegon. 6 Bulan setelah aku dinyatakan lulus bersyarat sidang Tugas Akhir. Kondisi finansial separuh tahun itu bisa dibilang kembang-kempis. Sebelumnya, ada story yang serupa di sini dan sini. Kondisi keuangan saat ini Alhamdulillah mandiri dengan sisa uang dari pekerjaan di Jakarta.

Maret 2018. Jakarta. 5 Bulan setelah lulus bersyarat, aku diterima bekerja by project di Jakarta. Kondisi keuangan saat itu jujur sangat berat. Namun Allah kembali menunjukkan kuasaNya: bahwa Ia memberi kekayaan dan KECUKUPAN pada manusia, bukan kemiskinan. Aku bisa memulai lepas dari tanggungan orang tua.

Back to present. Memasuki akhir April ini, nampaknya keadaan finansialku mulai menipis. Saat ini tersisa kurang dari Rp 80.000,- untuk satu pekan ke depan. Dengan kondisi Cilegon yang gak bisa disamakan dengan Semarang apalagi Purbalingga, ini cukup berat.

Namun kembali, Allah tak pernah menelantarkan hambaNya. Ketika manusia hanya bisa menganalisis data dari yang nampak, namun Allah memberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.

Sepekan terakhir aku beberapa kali berfikir dan memutar otak untuk setidaknya survive di bulan ini: “berhemat itu pasti. Nambah pemasukan? emang ada usaha? kalo gaada, masa iya Allah tiba-tiba memberi rezeki dari pintu ini?” kataku. Terbesit di hati ini untuk pinjam uang ke temen. Tapi seketika itu hatiku menolak. Dan pada saat yang tak jauh, ibu tiba-tiba chat: “mamas, butuh uang lagi ndak?”. Glek!. Kenapa di saat seperti ini. Tapi diri ini punya izzah, dan izzah seorang muslim adalah memohon dan meminta hanya kepada Allah, di waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Lantas aku jawab: “Alhamdulillah cukup, Bu. InsyaAllah.”

Beberapa hari lalu, kawan di Semarang juga tiba tiba DM: “Fin, uang yang untuk talangin gamis udah lunas belum?” “Alhamdulillah udah”. Anggap aja udah lunas, batinku. Karena aku tak benar benar hitung hitungan di situ. Mungkin emang belum lunas. Tak apa. Beberapa jam kemudian dia chat: “Alhamdulillah ini udah dibeli 2, harga 100 ribu”. Terbesit untuk menarik uang itu, namun kemudian dia chat “rencana mau dibelikan hadiah untuk ustadz”. Okay, aku punya banyak hari untuk berfikir ulang. “Alhamdulillah, makasih yak” balasku. Pun, Ahad besok 22/04, aku berniat ketemu kawan di Jakarta, sekalian ikut kajian. Namun dengan uang pas-pasan, aku ragu untuk mengiyakan.

Namun tetap, dari beberapa pengalamanku sebelumnya, dan pastinya dari janji-janji Allah yang banyak di Al quran dan sunnah, aku tetap yakin bahwa sangat mudah bagi Allah untuk memberi rezeki kepada kita. Tinggal usaha kita gimana. Usaha disini bukan berarti usaha duniawi aja, tapi yang pertama justru usaha untuk bertaqwa pada Allah, mentauhidkannya dan gak bergantung kepada manusia.

Dan tepat di akhir pekan ini, Allah benar-benar memberi rezeki dari arah yang gak bisa aku pikir: kok bisa ya?

Arif-teman kontrakanku saat di Semarang-tiba-tiba chat aku:

Allahu Akbar!

Allah masih memberi rezeki pada kita, bahkan menambahnya. Padahal diri ini banyak lalai. Padahal diri ini masih bermaksiat. Masih sangat lemah dalam amar maruf nahi munkar. Apakah kita tidak malu? Maafkan kami ya Allah… semoga kita dimudahkan untuk segera bertaubat dari segala kedurhakaan kepada pencipta kita, Allah…

Travelisme: Pulau Merak Kecil

Hello. Kembali nulis lagi di kategori traveller setelah lama tidak menjejak indah alam Indonesia. Pasca kelulusan – Maret disibukkan traveller di kota-kota aja.

Destinasi travel pertama aku di Cilegon adalah Pulau Merak Kecil. Kebetulan ada temen seangkatanku yang tinggal di Serang dan mengajakku untuk main. Langsung gas kita.

Akses. Untuk mencapai sini, banyak alternatif transportasi yang bisa digunakan:

  1. Menggunakan sepeda motor ke arah Merak
  2. Menggunakan angkutan umum dari kota berwarna merah (tujuan Merak)
  3. Menggunakan bus arimbi/primajasa/AJP jurusan Merak
  4. Menggunakan KA lokal turun di stasiun Merak

Kali ini aku melakukan penyebrangan via Pantai Mabak Cilegon. Lokasinya cukup mudah ditemukan yaitu sebelum bank BRI kanan jalan kalau dari Merak.

Capture

Setelah naruh motor, kita kena charge parkir Rp. 5000,-. Setelah foto-foto, kami memutuskan untuk menggunakan jasa perahu untuk sampai Pulau Merak Kecil dengan biaya Rp. 15.000,- untuk pulang-pergi. Pemandangan di pantai ini cukup laah. Ditambah ada banyak pilihan jajanan dan makanan untuk mengganjal perut.

IMG_20180407_170155_HDR

Perjalanan menggunakan perahu memakan waktu hanya sekitar 5 – 10 menit. Jasa perahu ini mulai pada pukul 08.00 – 18.00. Durasi waktu yang diberikan sebenarnya bebas, tapi karena kami terlalu sore, sehingga kami hanya ada waktu 30 – 45 menit saja.┬áSetelah menepi di pulau, kami disambut dengan pantai pasir putih yang mengelilingi pulau ini.

IMG_20180407_174815_HDR

Setelah foto di plang pulau, kami mulai mengelilingi pulau ini. Cukup waktu 15 – 20 menit, pulau ini bisa kami sisir dan tentunya dengan take banyak foto. Di tengah pulau ini, ada ibu-ibu pedagang makanan, namun saat kami datang, ibu-ibunya udah prepare pulang.┬áTerlihat sunset tidak terlihat karena tertutup awan :/.

IMG_20180407_172921_HDR

Last, ternyata di sini kita bisa menginap lho. Dengan berbekal dome dan makanan, serta izin ke orang yang narik kapal bahwa kita akan pulang esok pagi. Its ok. Sabtu malam ini ada tiga anak yang nginep di tengah pulau tak berpenghuni ini.

IMG_20180407_173810_HDR

Overall, Pulau Merak Kecil cocok buat dijadiin destinasi liburan weekend kalian. Untuk rating saya 7.5/10. Beberapa minusnya adalah sampah masih banyak berceceran disini. Plusnya, kita bisa menginap dan pemandangan yang disuguhkan mantap djiwa.

(Belum) Satu Bulan di Jakarta

Jakarta adalah tentang kehidupan dan segala kompleksitasnya. Konflik batin antara menjadi golongan yang bersyukur atau tidak menjadi makanan sehari-hari. Mempermasalahkan nominal dengan hitung-hitungan waktu kerja, atau tenaga, atau pikiran yang dikerahkan. Membandingkan satu dengan lainnya. Ah, takkan pernah habis rasa-rasanya.

Tiap aku merasakan konflik itu, tiap itu pula Allah menunjukkan kuasaNya, aku hampir tiap hari banyak bertemu dengan orang-orang yang lebih memprihatinkan keadaannya daripada aku. Hari pertama, ada teman-teman pekerja kontrak yang tidur di kantor untuk menghemat biaya tempat tinggal, berikutnya ada sepasang pemuda, satu orang mendorong troli yang berisi pemuda lain yang tak memiliki tangan dan kaki. Hari rabu, aku bertemu dengan seorang lelaki buta, dan anak yang cacat fisik, kemudian saat pulang malam aku bertemu dengan bapak-bapak yang siap-siap untuk tidur di emperan jembatan layang. Kemudian di akhir pekan, aku bertemu dengan paman temanku, yang belum memiliki anak setelah 20 tahun menikah. Ternyata Allah terus menerus menyadarkanku, bahwa aku harusnya bersyukur dengan segala yang ada. Karena dengan bersyukurlah, Allah akan menambah nikmatNya… Alhamdulillah.

Aku dan Jakarta kemudian berbicara tentang konsistensi habit yang direncanakan. Bahwa ternyata cukup sulit untuk melakukan target rutinitas harian, mengingat waktu yang di punya tersisa sedikit di pagi dan malam hari. Namun target harus terus disesuaikan dan habit harus terus dipaksakan.

Lumayan banyak kenalan di pekerjaan sementara ini, dari team driver (pak Dwi, pak Opung), team GA (pak Fajar, Anggi), team OB (pak Giri, Imam), team QA/QC (Pak Wahyu manager, Makhsun, Wandi, Afri), team procurement (Bu Dina, Pak Leo, Saddam), team engineering (pak Frengky manager, Agus, Zaenal, Fahmi), pak Mukti construction manager, dll.

Terakhir, di pekerjaan pertamaku, setelah hari pertama usai, aku bertemu bapak 2x, ketiduran setelah subuh dan malam hari nya ­čśŽ beliau tersenyum lebar kepadaku…

Selain itu, ada kejadian de javu, hal yang selalu ku alami: ketika aku berada di kantor, dan berada di tengah obrolan, yang intinya orang pertama tidak bisa hadir kemudian mendelegasikan orang lain nya, dan itu persis seperti aku pernah melihatnya. Benarkah saat kita di rahim Allah perlihatkan takdir-takdir yang akan kita alami selama di dunia? entahlah.

Edit: Ternyata belum genap satu bulan menjadi pejuang di Jakarta, Allah menakdirkanku untuk pindah ke Cilegon. Ke tempat yang insyaAllah jauh lebih baik. Alhamdulillah. See ya JKT!

Heran.

Aku heran terhadap orang yang memahami kematian, sementara ia banyak tertawa. Aku heran terhadap orang yang memahami dunia ini fana, sementara ia terus disibukkan oleh dunia itu. Aku heran terhadap orang yang memahami berbagai perkara telah ditetapkan sesuai takdirNya, sementara ia bersedih atas hilangnya perkara-perkara itu. Aku heran terhadap orang yang mengetahui adanya hari perhitungan, sementara ia terus mengumpulkan harta. Aku heran terhadap orang yang mengetahui adanya api neraka, sementara ia terus berbuat dosa. Aku heran terhadap orang yang mengetahui adanya surga, sementara ia malah banyak berleha-leha. Aku heran terhadap orang yang memahami bahwa setan itu musuhnya, sementara ia malah selalu menaatinya.

Secret Happiness

Kalau sudah begini, rasa-rasanya tak ada yang pantas aku banggakan. Rasa-rasanya, kebahagiaan orang lain yang mereka sebarkan, tak ternilai apa-apa bagiku.

Waktu menunjukkan pukul 10.15. Rasa kantuk yang melanda diri yang baru beberapa menit membaca materi, memaksaku untuk rebahan di depan laptop yang masih menyala terang karena lampu kamar aku matikan. Tak selang lama, aku masuk ke alam mimpi yang cukup singkat. Aku terbangun dengan kondisi yang tak lagi lelah. Aku bangun dengan kondisi yang sangat berbeda akibat mimpi yang terasa nyata itu. Aku bangun pukul 10.40.

Dan mimpi itu bercerita banyak…

Dimulai dari Bapak yang entah darimana hadir. Senyum ceria Raihan dan Tika yang sedang aku gandeng tangan keduanya. Raut muka ibu yang tenang, yang sebenarnya menyimpan banyak hal yang tak ku ketahui. Setelah berjalan lama, kami menuju mobil. Aku penasaran, mobil apa yang di bawa? Siapa yang nyetir kalau bukan aku?┬áDan ternyata mobil angkot! Dengan tarif 425k ke Magelang. Lantas, aku menangguk pelan. Lalu, apakah muat ber 5? Ternyata lebih. Bahkan ada anak-anak pengamen yang ikut bersama kami, turun di suatu daerah (?) Di angkot, aku memeluk Ibu dengan erat, tak terasa air mataku menetes, kata demi kata yang ibu ucapkan semakin membuat air mataku jatuh tak terbendung. Aku sayang ibu… dan aku terbangun, tapi itu seakan nyata. Entah air mataku memaksaku untuk lebih lama memeluk dia, dia yang berjuang lebih dari umur hidupmu, dan berjuang ekstra akhir-akhir ini untukmu. Dia yang rela kesana-kemari untukmu, ribut dengan banyak orang demi kamu, dan mengorbankan tak sedikit materi, harta, bahkan perasaan untukmu.

Dear kawan, ternyata bahagia tak sejauh itu. Ia dekat, sedekat engkau memeluk ibumu, sedekat engkau melihat ibumu bercerita banyak pada hari-harinya, sedekat engkau melihat ibumu tersenyum bangga karenamu. Secret happiness in every human beings is, when the others happy, especially your special one, your mother.

2018: Minimalis.

Visi: Bahagia dunia akhirat dengan terwujudnya diri yang berkualitas dan bermanfaat bagi agama dan bangsa

Misi:

  1. #TauhidFirst: Istiqomah di jalan tauhid dan sunnah.
  2. #Self-Living: Good personality & family (intrapersonal), softskill (interpersonal), and hardskill
  3. #GoodHabitual: religion habitual, personality habitual, softskill and hardskill habitual
  4. #Sharing: Berbagi untuk kehidupan yang lebih baik

 

Look 10m Above Your Road!

Ada hal bermakna di tiap detik berlalu. Jika kau tangkap makna itu, dan jadikan pelajaran hidupmu, kau akan tau apa dunia dan seisinya. Lihatlah mata yang memandangmu kala mengobrol, kau bisa tau apa yang ada dalam dirinya. Lihatlah jalanan yang membawamu pergi ke suatu tempat, kau akan tau makna perjalanan itu. Lihatlah sekelilingmu, aktivitas yang orang lain lakukan, engkau akan tau banyak makna yang mendasari mereka melakukan itu. Ada hal yang harus diperjuangkan. Jika kau belum punya hal yang layak diperjuangkan, periksa lagi imanmu, mungkin imanmu sedang lemah. Karena hal yang sangat patut diperjuangkan adalah surgaNya.

Ridhokah engkau jika Allah simpan pengabulan doa-doamu di akhirat (menjadi kebaikan, pahala)? Sungguh, ganjaran ini jauh lebih baik daripada Allah kabulkan doamu di dunia. Bagaimanapun, teruslah berdoa, khusnudzan, berikhtiar! Apapun yang engkau alami, jangan pernah gantungkan pengharapanmu kepada selain Allah.

Kita memang tak bisa memilih takdir. Kesalahan jika kita mempertanyakannya. Kita tak pernah mau diberi hal buruk, namun jika itu adalah takdir kita, kita hanya bisa bersabar atasnya, mensyukurinya dan berusaha sebaik-baiknya agar mendapat ridho Allah.

Ingat! Seluruh dunia dan isinya hanyalah ujian, yang hanya berdurasi seperti waktu dhuha, tidak lebih! Tak sedikitpun dari dunia itu berharga kecuali bertaqwa kepadaNya.┬á Karena sesungguhnya segala yang kita “punya” bukanlah yang kita miliki, segalanya. “Innalillahiwainnailaihirojiun” adalah kalimat yang menyatakan ketiadaan apa yang kita miliki di dunia, segalanya. Apapun itu. Harta, materi, skill, kemampuan, indera-indera kita, semuanya… Kita hanyalah dititipi untuk melaksanakan ujian, apakah kita berhasil menjaganya dengan cara menggunakannya dengan baik dan bersyukur, atau gagal, sombong dan menggunakannya untuk maksiat.┬áJangan bersedih atas apa yang telah ditakdirkan untukmu, dan juga yang telah luput darimu. Karena engkau tak pernah tau, betapa indah takdir yang telah Allah gariskan kepadamu!

 

Nyungsep

Kelak, engkau merindu saat dunia tak adil bagimu, dimana dirimu merasa terhina, gagal, merasa tak dihargai, tak mencapai keinginanmu, targetmu, dimana semua orang membencimu. Lantas engkau sedih,┬á jatuh, nyungsep, terpuruk karenanya. Lalu engkau adukan semua keluh kesahmu hanya kepadaNya. Tahukah? Kadang engkau berada diposisi itu karena Allah tau, inilah yang terbaik buatmu. Ia sayang padamu, sehingga engkau dicampakkan dunia dan kembali bergantung hanya kepada Allah semata. Bersyukurlah! Karena semua orang tak merasakan nikmatnya dicampakkan dunia dan kembali pada Allah saja… #notetoself

Pasti ada yang salah dalam dirimu, ketika lebih tertarik untuk membaca dan mengambil pelajaran buku yang berkaitan dengan dunia, namun tak tertarik dengan buku pegangan setiap muslim… #notetoself

Power of Sedekah (Again)

Desember pekan lalu, aku merasakan lagi bahwa Allah benar-benar membalas setiap hal yang digunakan untuk kebaikan, dan untuk agama Islam. Dan Alhamdulillah Allah membalas langsung apa yang aku lakukan pada dua pekan lalu di pekan lalu.

Here’s the story.

Jumat sore itu, dua pekan lalu, aku masih bersantai bersama Ibu di rumah. Tetiba ada pak pos yang mengantar surat atas namaku. Cukup kaget, karena aku tak sedang bertransaksi apapun. Setelah dibuka, ternyata dari voucher dari pertamina senilai 500.000. Alhamdulillah. Berhubung aku besok pergi ke Semarang, dan sabtu pekan depannya Ibu berencana menjemput adikku, maka aku serahkan setengah voucher BBM tersebut kepada Ibu. Aku sungguh tak berharap apa-apa waktu itu, karena pun jangka waktu penggunaan voucher itu hanya sampai akhir tahun 2017.

Sabtu aku sudah di Semarang. Berhubung kawan-kawan kontrakan masih belum pulang, aku bagi deh voucher itu lagi senilai 100 ribu. Sisanya aku gunakan untuk perjalananku ke Jogja esok hari.

Entah kenapa aku sangat enjoy menjalani 3 hariku di Jogja. Target yang aku set pun terpenuhi semua. Dari mulai dua seleksi kerja yang ternyata belum rejekiku, bertemu dengan teman dari Klaten, mampir ke maskam UGM, hingga maintenance ELITRAP, prototipe alat pembasmi hamaku di Bantul.

Entah kenapa pada hari terakhir, setelah mengobrol dengan mbak Arin, relasi dari KSE untuk penerapan teknologi ELITRAP, pihak KSE kemudian memberi respon positif untuk mencairkan dana 50% ku yang bernilai lebih dari dua juta. Alhamdulillah.

Pada hari yang sama, aku dihubungi oleh PT. KPI untuk melanjutkan tes berikutnya, yang sebenarnya aku sudah pingin move on darinya. Alhamdulillah.

Pagi menjelang siang, aku cukup khawatir aku tak bisa menjangkau Semarang di sore harinya karena ada jadwal online interview dengan PT. UNISEM. Ternyata selang beberapa menit dari telepon PT. KPI, pihak PT. UNISEM mengajukan reschedule untuk lusa sore. Alhamdulillah.

Belum berhenti sampai situ, sesampainya di Semarang, aku teringat punya dana 70% dari pembatalan kereta, sekitar 140an ribu. Akhirnya aku ambil . Alhamdulillah.

Terakhir, setelah ada info dana PKM bisa dicairkan, bergegas aku mengurusnya, untuk di transfer ke tim dan menutup rekening pada saat itu juga. Alhamdulillah, lumayan 300 ribu.

Kalau di hitung-hitung, Allah ternyata membalas apa yang aku beri ke orang lain hingga 8x lipat lebih. Allahu Akbar! Kurang baik apa lagi Allah sama kita? :”

“dan terhadap nikmat dari Rabb-mu, maka nyatakanlah (dengan bersyukur).”

#nasehatdiri

In the end, kita semua akan sadar, di dunia, kita hanya bersaing dengan diri sendiri saja. Bersaing dengan keinginan duniawi, nafsu diri, dan ego diri.

Its okay kita tak sehebat, setinggi, atau sebanyak orang lain. Karena persaingan dengan diri kita hanya berbicara tentang bagaimana kita menjalani hidup sebaik-baiknya, pada koridor takdir kita, pada timeline waktu kita masing-masing.

So, satu-satunya hal yang harus dikhawatirkan adalah, kita banyak melihat orang lain yang kita tak dibebani untuk seperti mereka, sehingga lalai untuk memperbaiki diri, sedikit berbekal untuk waktu yang tak kita ketahui kapan akan terhenti.