Sekecil apapun dosa, pasti akan berdampak pada kehidupanmu. Maka yang engkau perlukan adalah taubat dan hati yang peka. Taubat dari segala dosa, hingga dosa terkecil yang engkau sadari. Dan peka dari segala hal anomali yang timbul pada kehidupanmu. Anomali itu bisa banyak sekali. Dari anomali dalam kehidupan duniamu, entah engkau akan sulit untuk melakukan sesuatu, ataupun anomali dalam hal spiritualmu, engkau akan sulit untuk khusyu ataupun melakukan hal-hal yang sebelumnya mudah engkau lakukan. Maka setelah ketidakberesan itu semua, sungguh itu semata-mata hanya karena dosa-dosa kita. Dan dosa itu nggak langsung di bayar langsung saat itu juga. Maka jangan pernah merasa aman dengan dosa.

Ya Allah, jadikan aku jadi golongan orang yang peka dan segera meminta ampun serta golongan orang-orang yang bertaubat atas apa yang menimpa diri yang lemah ini.

Perjalanan Sebuah Doa

“Adapun dengan nikmat Rabb-mu, maka ceritakanlah” (QS. Ad Dhuha:11)

Bismillah.

Iblis Saja Berdoa dan Dikabulkan, Mengapa Kita Tidak?  Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan” Maka Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (Al-A’raf: 14-15)

Kata orang, mengulang-ulang do’a Itu seperti mengayuh sepeda, suatu saat pasti sampai tujuan. Dan ternyata perjalanan do’aku tak lebih dari satu semester. Perjalanan yang cukup panjang, bisa jadi cukup pendek. Pernah dalam perjalanan itu aku terjatuh, berkali-kali, dan bangkit lagi berkali-kali. Rasanya cukup lelah, tapi ini adalah salah satu bukti, bahwa Allah tak mungkin ingkar terhadap apa yang telah ia firmankan: berdoalah kalian kepada ku, pasti akan aku kabulkan (QS. Al Mukmin:60)

Tidak ada seorangpun yang berdoa dengan sebuah dosa yang tidak ada dosa di dalamnya dan memuutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengabulkan salah satu dari tiga perkara, [1] baik dengan disegerakan baginya (pengabulan doanya) di dunia atau [2]dengan disimpan baginya (pengabulan doanya) di akhirat atau [3] dengan dijauhkan dari keburukan semisalnya”, para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu kami akan memperbanyak doa?” Beliau menjawab: “Allah lebih banyak (pengabulan doanya) (HR. Ahmad)

Jikalau kata motivator-motivator itu kau tuliskan 100 harapan dikertas lalu kau tempel di tembok kamar kosmu, aku rasa tak perlu seribet itu. Cukup tengadahkan tangan kita di waktu-waktu dan tempat-tempat mustajabnya doa. Apa yang sulit bagi Allah saat Ia telah berkehendak?

img_0035

Menang?

Bukan. Ini bukanlah kemenangan hakiki. Hayya ‘Alal Falah” (mari meraih kemenangan) itulah seruan sang muadzin yang mengajak kita untuk selalu meraih kemenangan yang hakiki. Iya, dengan mendirikan shalat kita berarti menuju sebuah kemenangan dunia dan akhirat.

Sombong?

Bagaimana bisa aku sombong saat semua nikmat ini dariNya? kemampuanku dariNya? dan segala yang aku tempuh adalah takdirNya? Bagaimana bisa aku sombong, saat semua pencapaian ini barangkali adalah bukan dari usahaku, tapi doa-doa orangtua yang mereka panjatkan tiap dini hari? Teringat salah satu kutipan: Setiap kali kamu merasa beruntung, percayalah doa ibumu telah didengar dan dikabulkan olehNya. Iya. Bagaimana bisa aku sombong jika demikian?

Namun ada satu hal yang perlu kita sadari, sesungguhnya nikmat Allah tidak lain hanyalah dua: Nikmat karena ketaatan kita padaNya, yang membawa hambaNya lebih mendekatkan diri padaNya, atau istidraj, “nikmat” yang Allah beri pada hambaNya agar ia terus menjauh dan menjauh dari Rabbnya.

Terakhir, semoga pencapaian ini adalah nikmat yang mendekatkan diri kita kepadaNya. Semoga kita terus berkarya semata-mata ikhlas untuk membantu orang lain, berkontribusi ke masyarakat dan menjadi amal jariyah, membahagiakan orang tua, dan mengharap jannahNya.

Semoga kita semua juga terhindar dari sifat hasad dan ‘ain yang sangat berbahaya dampaknya pada diri kita pribadi. Aku berlindung dari keburukan diri ini, dari apa yang aku dengar, apa yang aku lihat, apa yang aku ucap, apa yang aku tulis, dan apa yang hatiku perbuat atas sesuatu. Semoga kita terus berada di jalan keikhlasan, semata-mata untuk memotivasi dan berdakwah pada orang lain. Aamiin.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah

Dan dirimu, jika tak disibukkan dengan perkara baik akan disibukkan dengan perkara sia-sia.

as-syaikh Abdurrahman as-Sadi:

diantara tanda Allah tidak inginkan kebaikan pada (hamba)Nya adalah dijadikan dirinya berat untuk melakukan ketaatan dan hatinya merasa senang melakukan kemasiatan.

 


Sungguh, takkan pernah menyatu dalam diri seorang hamba, kenikmatan maksiat dan dosa dengan kenikmatan ibadah kepada Allah.

Iya, cinta akhirat dan cinta dunia tak akan pernah bisa bersatu di hati seorang hamba.

Budak Dunia

Tanda-tanda Anda Sudah Menjadi Budak Kehidupan Dunia:
1. Anda tidak bersiap-siap saat waktu shalat aka n tiba.
2. Anda melalui hari ini tanpa sedikitpun membuka lembaran Al Qur’an lantaran Anda terlalu sibuk.
3. Anda sangat perhatian dengan omongan orang lain tentang diri Anda.
4. Anda selalu berpikir setiap waktu bagaimana caranya agar harta Anda semakin bertambah.
5. Anda marah ketika ada orang yang memberikan nasihat bahwa perbuatan yang Anda lakukan adalah haram.
6. Anda terus menerus menunda untuk berbuat baik. “Aku akan mengerjakannya besok, nanti, dan seterusnya.”
7. Anda selalu mengikuti perkembangan gadget terbaru dan selalu berusaha memilikinya.
8. Anda sangat tertarik dengan kehidupan para selebriti.
9. Anda sangat kagum dengan gaya hidup orang-orang kaya.
10. Anda ingin selalu menjadi pusat perhatian orang.
11. Anda selalu bersaing dengan orang lain untuk meraih cita-cita duniawi.
12. Anda selalu merasa haus akan kekuasaan dan kedigdayaan dalam hidup, dan perasaan itu tidak dapat dibendung.
13. Anda merasa tertekan manakala Anda gagal meraih sesuatu.
14. Anda tidak merasa bersalah saat melakukan dosa-dosa kecil
15. Anda tidak mampu untuk segera berhenti berbuat yang haram, dan selalu menunda bertaubat kepada Allah.
16. Anda tidak kuasa berbuat sesuatu yang diridhai Allah hanya karena perbuatan itu bisa mengecewakan orang lain
17. Anda sangat perhatian terhadap harta benda yang sangat ingin Anda miliki.
18. Anda merencanakan kehidupan hingga jauh ke depan.
19. Anda menjadikan aktivitas belajar agama sebagai aktivitas pengisi waktu luang saja, setelah sibuk berkarir.
20. Anda memiliki teman-teman yang kebanyakannya tidak bisa mengingatkan Anda kepada Allah.
21. Anda menilai orang lain berdasarkan status sosialnya di dunia.
22. Anda melalui hari ini tanpa sedikitpun terbersit memikirkan kematian.
23. Anda meluangkan banyak waktu sia-sia melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat.
24. Anda merasa sangat malas dan berat untuk mengerjakan suatu ibadah.
25. Anda tidak kuasa mengubah gaya hidup Anda yang suka berfoya-foya, walaupun Anda tahu bahwa Allah tidak menyukai gaya hidup seperti itu.
26. Anda senang berkunjung ke negeri-negeri kafir.
27. Anda diberi nasihat tentang bahaya memakan harta riba, akan tetapi Anda beralasan bahwa beginilah satu-satunya cara agar tetap bertahan di tengah kesulitan ekonomi.
28. Anda ingin menikmati hidup ini sepuasnya.
29. Anda sangat perhatian dengan penampilan fisik Anda.
30. Anda meyakini bahwa hari kiamat masih lama datangnya.
31. Anda melihat orang lain meraih sesuatu dan Anda selalu berpikir agar dapat meraihnya juga.
32. Anda ikut menguburkan orang lain yang meninggal, tapi Anda sama sekali tidak memetik pelajaran dari kematiannya.
33. Anda ingin semua yang Anda harapkan di dunia ini terkabul.
34. Anda mengerjakan shalat dengan tergesa-gesa agar bisa segera melanjutkan pekerjaan.
35. Anda tidak pernah berpikir bahwa hari ini bisa jadi adalah hari terakhir Anda hidup di dunia.
36. Anda merasa mendapatkan ketenangan hidup dari berbagai kemewahan yang Anda miliki, bukan merasa tenang dengan mengingat Allah.
37. Anda berdoa agar bisa masuk surga namun tidak sepenuh hati seperti halnya saat Anda meminta kenikmatan dunia.
Wallohul musta’an
Ust. Raehanul Bahraen
———-
Postingan Dr Budi Handrianto 19 Januari 2015

Pilih Kasih Penyakit

Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim)

Teman, apakah kita termasuk yang terjerumus dalam perkara ini? Pilih kasih penyakir. Ketika ada orang yang memiliki penyakit kanker, tumor, stroke kita kadang bilang itu penyakit yang parah. Padahal ada yang lebih parah dari itu, dan banyak dari kita yang menganggapnya biasa: Penyakit hati.

Kita kadang timpang menyikapi penyakit ini. Padahal efek dari penyakit rohani lebih dahsyat:

  1. Korban dampak penyakit rohani lebih banyak
  2. Akibat dari penyakit rohani hingga akhirat; sementara penyakit fisik/jasmani hanya di dunia saja (jika bersabar)

(lebih…)

Menyesallah Karena Ini Anak Muda!

Waktu cepat berlalu wahai anak muda, pasti ada sesal dirimu saat tak menggunakannya sebaik mungkin menurutmu. Iya, tak melakukan sesuai hasratmu, pergi ke sana, mengikuti ini itu. Tapi tak apa, sesalilah duniamu, namun jangna sampai engkau sesali saat waktu muda ini tak engkau gunakan untuk belajar ilmu agama, karena itu adalah sesal sesesalnya sesal anak muda. Kelak kita akan tau bersama.

Kita (pemuda) kadang terlalu semangat terhadap suatu hal dalam waktu yang singkat. Kita (pemuda) juga kadang idealis dalam memandang sesuatu. Dan masih tetap sama, hanya dalam waktu yang singkat dan/atau hanya sedikit yang mampu memertahankan idealisnya sampai umur 40an. Namun dibalik “keistimewaan” itu, jangan kita menjadi golongan bodoh, yang mengutamakan semangat dan idealisme dihadapan perintah Allah dan rasulnya. Karena itu adalah seburuk-buruk pemuda.

Jangan Lelah…

Wahai jiwa yang lemah, akuilah. Tiap hari kita pasti melakukan salah, entah secara tampak atau kesalahan dalam hati. Kesalahan tak menundukkan pandangan, mendekati zina, maksiat, ghibah, adu domba, berbohong, dan lain-lain. Wahai jiwa yang lemah, sesungguhnya engkau tau segala nikmat dariNya akan ditanyakan untuk apa digunakan kelak. Wahai jiwa yang lemah, jangan pernah lelah untuk mengaku salah, pada Rabb yang maha pemaaf. Wahai jiwa yang lemah, teruslah bertaubat dan bertekad untuk meninggalkan kesalahan itu. Ya Allah, jangan adzab kami atas kelalaian kami. Rabbana fala takilnii illa nafsi dharfata ‘ain.


Godaan itu tak akan berlanjut jika tak ditanggapi..Jangan berputus asa dari rahmat Allah, tapi juga jangan tenggelam dalam kubangan dosa.. Kalo sesekali terpleset atau terjatuh, ya segera bangun.. jangan malah maen-maen di situ.. Sebenarnya dosa itu sendiri bukan masalah terbesar, yg jadi masalah kalau udah berdosa tapi nggak tobat.. yang jadi masalah, kita pergi tapi nggak pulang-pulang..
#selama nafas masih terhembus, kamu masih ada harapan untuk kembali.. pulanglah

Jika ada hal yang tak pas dihatimu yang engkau lihat dari orang lain, hal pertama yang harus dan wajib engkau lakukan adalah berdoa. Mendoakannya. Bukan langsung menegurnya, karena bisa jadi engkau menyakiti hatinya. Dan barang tentu Allah lebih baik tegurannya daripada engkau.
#reminder

PEKA!

Betapa banyak pertanyaan “kenapa” disekitar kita, sadarkah? Pernahkah kita bertanya mengapa aku: Mengapa aku yang ditabrak? Mengapa aku yang ditipu? Mengapa aku yang menjadi subjek terhadap suatu kejadian yang tak biasa? Dan mengapa-mengapa lainnya. Dan dari semua pertanyaan mengapa itu, hanya ada satu jawaban, terlepas dari itu adalah azab, ujian, atau nikmat, karena Allah berkehendak untuk itu. Maka sesaat setelah itu, adalah waktu yang tepat untuk introspeksi diri, adakah kesalahan diri ini? sudahkah diri ini telah bersyukur?


Kadang orang yang dibenci Allah bukanlah orang yang menjadi miskin tiba-tiba. Kadang bukan mereka yang kehilangan jabatan mereka. Kadang pula bukan yang dijauhi oleh dunia dan seisinya. Bukan demikian. Namun orang yang dibenci Allah pasti Allah sulitkan bertemu dengannya di waktu siang dan malam, baik didunia maupun di akhirat nanti. Maka sebaiknya kita peka: Adakah penghalang saat kita ingin bersujud di masjid tepat waktu? Ada penghambat kita untuk datang ke taman-taman surga? Adakah masalah yang tiba-tiba terjadi saat kita ingin bertemu dengan Allah didunia? Iya, saatnya introspeksi. Insan yang lemah ini kadang lupa diri, kadang merasa terus dijaga Allah, namun kita justru tak menjagaNya. Mungkin saat-saat kita terhalang menuju Allah, saat itulah kita memiliki dosa, saat itulah Allah benci kepada kita.

Pekalah. Ketika engkau terhalangi untuk melakukan sebuah perjalanan, yakinlah ada hal yang lebih baik di tempat yang kau diami saat ini, atau ada hal buruk yang engkau temui nanti. Ketika ada saja hal yang menghalangimu untuk meraih suatu yang engkau anggap nikmat, yakinlah bahwa itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita untuk tak mendapatkannya. Barangkali disana banyak hal haram yang akan kau temui, atau kemudian engkau lalai karenanya.

Pekalah. Jika pada momen itu kamu merasa diuji, peka dan bersabarlah. Jika pada momen itu kamu merasa diberi olehNya, peka dan bersyukurlah. Pun juga dengan doa-doa yang engkau panjatkan, pekalah.


Jika doamu sesaat langsung dikabulkan, alhamdulillah. Jika doamu ternyata ditangguhkan, lebih bersyukurlah. Karena tiada doa yang takkan didengar oleh Allah (setelah memenuhi ketentuannya) Kecuali Allah akan balas dengan tiga hal:

  1. Dikabulkan saat itu juga
  2. Dijadikan pahala saat di akhirat kelak
  3. Dijauhkan dari mudharat

Terakhir, Menangislah. Menangislah jika pada detik-detikmu tak pernah sedikitpun peka terhadapNya terhadap tanda-tanyaNya yang telah Dia beri kepadamu setiap detik.

Ambillah Khusnudzonmu!

“Janganlah kamu berburuk sangka dari kata-kata yang tidak baik yang keluar dari mulut saudaramu, sementara kamu masih bisa menemukan makna lain yang baik..” [Umar bin Khattab]

“Rendah hati adalah setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya.” [Al Hasan Al Bashri]

“Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur sampai 70 udzur. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak ketahui.” [HR Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344]

Tak seorang pun hamba yang merendahkan saudaranya gara-gara sebuah dosa, melainkan hamba tersebut akan diuji dengan dosa yang sama. Maka jika sampai kepadamu perihal dosa -yang dilakukan oleh seseorang- ucapkanlah dalam hatimu: “semoga Alläh mengampuni kami dan dia” [Ibnul Qayyim]

Untuk (Kita) Para Pecandu Sosial Media

Untuk memenuhi rasa penasaran manusia, diciptakan sosial media. Kemudian kita terlena didalamnya berjam-jam hanya untuk memenuhi rasa itu. Pedang waktu mulai menebas waktu berhargamu saat engkau mulai menilik satu per satu profil orang atau sekadar menscroll terus-menerus berandamu. Dan bodohnya, kita melakukan itu setiap hari. Of course theres no big difference in every people. Gak bakal ada perbedaan signifikan orang-orang yang berada di friendlistmu dalam hitungan hari. Engkau hanya membuang waktumu! Jika kau ingin melihat perbedaan mencolok dari teman-temanmu maka tutup sosial mediamu, dan jalani kehidupanmu. Buka beberapa tahun lagi saat kau telah sadar bahwa sosial media hanya akan mejauhkan yang dekat darimu, dan membuang sebagian besar dari waktu berhargamu.


(lebih…)

Subuh yang Berbeda.

Sore itu bulan Oktober, di sebuah perumahan yang cukup tenang. Hujan mengguyur cukup lama, membuat suasana sore menjelang petang itu semakin syahdu. Remang-remang gerombolan anak-anak SD-SMP mulai bergegas menuju mushola kecil di perumahan mereka. Seperti biasa, semburat awan sore itu pecah tatkala suara-suara merdu anak itu berbunyi, mengumandangkan adzan, tanda waktu magrib telah tiba.

Seusai shalat, gerombolan anak tadi mengerumuni seorang bapak dengan anak-anaknya yang berbaris rapi di shaf paling depan.

“Pak, nanti kita ngaji kan pak?” Kata salah seorang anak dari gerombolan itu

“Iya pak Ustadz, ngaji ya pak abis ini pak” Tambah anak lainnya

“Iya nanti ya, insyaAllah” Timpal seorang bapak itu.

Tak sampai satu jam berselang, adzan isya berkumandang. Lagi, suara anak-anak yang mengajak kaum muslim untuk shalat dan meraih kemenangan.


Dini hari menjelang, adzan subuh pagi itu mulai bersaut-sautan, namun nampaknya mushola di perumahan itu belum dikumandangkan. Seorang pemuda bergegas untuk bangun, membersihkan muka dan menuju mushola perumahan itu. Nampak dari jauh lampu mushola telah hidup, tanda ada orang yang telah sampai di sana. Sesampainya disana, pemuda itu cukup kaget sekaligus senang, ada pemandangan yang tak biasa ia dapatkan sebelumnya. Seorang anak yang kemarin ngaji berada di hadapannya, hampir menyalakan speaker untuk mengumandangkan adzan subuh.

“Mas, mas aja yang adzan mas, hehe” Kata anak itu

“Oh gitu, iya” Jawab singkat pemuda itu

Kemudian mereka dan beberapa jamaah lain menunaikan shalat subuh berjamaah. Dan hari-hari itu berulang, kadang mereka ngaji selepas maghrib sampai isya, kadang mereka libur.


Iya, betapa hanya dengan ngaji; membaca al quran, atau menghafalnya, kita pasti akan mendapat motivasi untuk melakukan ketaatan lainnya. Faidah lainnya adalah kita bisa mengukur amal ibadah kita, apakah amal ibadah kita diterima atau tidak oleh Allah? Salah satu amalan kita diterima adalah seperti yang dikatakan al Hasan al Bashri:

“Sesungguhnya diantara balasan amalan kebaikan ialah (dimudahkan Allah) melaksanakan kebaikan setelahnya. Dan diantara hukuman atas perbuatan buruk ialah melakukan keburukan setelahnya. Maka, apabila Allah telah menerima (Amalan dan Taubat) seorang hamba, niscaya Allah akan memberinya taufiq untuk melaksanakan ketaatan (kepada-Nya), dan memalingkannya dari perbuatan maksiat (kepada-Nya).”

Seharusnya kita malu, yang notabene lebih tua dari anak-anak itu, sudah sampai mana kita? Apakah benar kita memiliki motivasi kuat seperti anak-anak itu? Lalu, bagaimana shalat wajib kita? Benarkah sudah kita tegakkan dengan ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan nabi muhammad), apakah ciri ibadah yang diterima itu sudah kita dapati?

Kita Tau, Tapi…

Kita tau bahwa bersosmed tanpa tujuan menghabiskan waktu kita, tapi…? Kita tau mengobrol tanpa tujuan akan mengarah ke membicarakan orang lain, tapi…? Kita tau tepat waktu adalah kewajiban, tapi…? Kita tau tersenyum adalah cara terbaik menyapa orang lain, tapi…? Kita tau kita sedang membuang waktu, tapi…? Kita tau banyak hal mendasar dalam kehidupan kita, tau bahwa yang kita lakukan salah namun kita tak bergegas beranjak dari keadaan buruk itu.

Begitu juga dengan ibadah kita. Kita tau kita wajib shalat tepat waktu, nyatanya sampai chat dibaca semua baru kita beranjak. Kita tau shalat di masjid lebih mulia daripada dirumah, tapi kita tak beranjak sedikitpun dari depan laptop kita hingga iqamah tiba. Kita tau shalat malam merupakan shalat terbaik setelah shalat fardhu, tapi puluhan alarm itu tak menggerakkan tubuh kita sedikitpun, nyatanya, untuk bangun bukan masalah alarm atau tidak, tapi masalahnya di hati kita, apakah kita berniat ingin bangun dini hari atau tidak?

Kita tau membuang waktu dan nongkrong di pinggir jalan tak baik bagi kita karena akan menjerumuskan ke berbagai dosa dan maksiat, namun kenapa kita tak tinggalkan? Kita tau ghibah itu buruk tetapi kenapa kita terus menikmatinya? Kita tau bermaksiat itu merusak badan kita, tapi kenapa kita tak meninggalkannya? Kita tau riba itu haram, tetapi kenapa kita terus mengambilnya? Kita tau syirik berarti kita murtad, tapi kenapa kita masih loyal terhadap orang yang berbuat syirik?

Banyak hal dalam perkara dunia dan agama yang sebenarnya kita tau, tapi ternyata kita justru tak melaksanakannya untuk perkara yang baik dan tak menjauhinya untuk perkara yang buruk? Nyatanya memang begitu. Juga termasuk: Kita menginginkan surga, namun kita berbuat seolah ingin menjauh dari surga. Naudzubillah. Banyak orang masuk neraka bukan karena mereka tak tau bahwa itu adalah hal baik atau buruk, tapi karena ia tak mau melakukannya/meninggalkannya.

Kawan, kelak di akhirat nanti, ada penyesalan terhadap semua kesempatan amal baik yang seharusnya bisa kita lakukan sempurna namun kita sia-siakan, dan penyesalan terhadap kesempatan dosa yang tak pernah kita sia-siakan.

Ya Allah maafkan kami.