Makanan Jiwa

Makanan jiwa adalah pengakuan dan pujian manusia. Kita ingin diakui akan keberadaan kita. Ketahuilah, makanan jiwa takkan membawa pahala sedikitpun disisi Allah. Maka tanyakan, sudah ikhlaskah diri kita? Ingatlah, satu kunci dari kunci-kunci kesuksesan dunia-akhirat adalah melepaskan semua target dari keridhoan manusia. Karena tak mungkin kita bisa menghindar dari celaannya, sementara pujiannya tak mengangkat derajat kita sedikitpun.

Kuliah Kerja Nyata. Yakin Nyata?

Time flies so fast. Rencana-rencana yang dirancang sedemikian rupa nyatanya sulit direalisasikan dilapangan. Sebahagian pupus tak tersisa, sebahagian rusak tersisa puing-puingnya saja. Yang katanya kuliah sambil kerja nyata, tak sedemikian keren di lapangan. Aku banyak menemukan hambatan internal maupun eksternal di sana.

Teringat salah satu potongan narasi di suatu blog, “aku menyesal bukan karena banyaknya hal salah yang aku lakukan, namun justru aku menyesal karena banyak hal yang aku ingin, tapi aku tak berusaha untuk mencapainya lebih keras lagi waktu itu.”

Nyatanya kini kita dipenghujung waktu. Terus berjalan tanpa merasa iba pada sesal-sesal yang aku tumpuk.


Baiklah, setidaknya memang disetiap perjalanan ada pesan dan kesan, dan aku bersyukur akan pesan dan kesan itu. Aku bersyukur di tempatkan di tempat yang di luar ekspektasiku dan benakku bahwa KKNku akan begini, sehingga aku dapat pelajaran lebih banyak. Aku bersyukur karena aku masih bisa kembali dengan selamat dan membawa banyak kaidah hidup baru. Dan aku bersyukur atas kehidupanku dan rumah keduaku di Semarang ini. Ternyata masih ada di sisi dunia lain sana yang berjuang bukan hanya dalam hal materi, tapi juga perbaikan karakter individu.

  • Untuk mengubah kehidupan seseorang, karakter seseorang, kita tidak mungkin bisa mengubahnya dalam waktu sekejap. Butuh proses dan waktu yang lama. Karena karakter tertancap dalam pikiran, dilakukan setiap hari dan ia jarang untuk bertanya lebih dalam: “Dari mana asalnya, apakah sudah benar? Apa akibatnya kalau salah? Apakah bisa dibuat menjadi lebih baik?” Nyatanya untuk merubah lingkungan dimulai dari diri kita sendiri. Kemudian kita contohkan melalui perilaku dan baru lisan kemudian tindakan. Dan itu sulit bagiku. Bahkan untuk mengubah diri sendiripun butuh ilmu lagi. Karena ternyata tak cukup mengetahui kebenaran untuk jadi orang yang benar. Karena seringkali kita tak jujur pada Allah. Karena akal dan hawa nafsu kita menarik jauh dari kebenaran.
  • Lagi-lagi soal ilmu. Iya. Al ilmu qobla qoul wa amal. Ilmu sebelum berkata dan beramal. Disini aku sekali lagi dingatkan untuk bersyukur atas ilmu yang diberikan olehNya. Karena ternyata masih banyak orang yang jauh dari ilmu. Sungguh, musibah terbesar seorang manusia di muka bumi adalah hati yagn keras, sehingga ia jahil dan jauh dar ilmu agama.
  • Selanjutnya adalah tentang sunnah dan bid’ah. Mereka itu gak pernah bisa bersatu dan saling meniadakan. Saat engkau menjalankan sunnah, engkau akan membenci bid’ah dan enggan melakukannya. Begitu juga sebaliknya, saat engkau melakukan bid’ah, engkau akan sinis terhadap sunnah dan engkau akan enggan melakukan sunnah sekecil apapun itu.
  • Kebahagiaan itu kita yang ciptakan. Betapa banyak orang-orang yang menumpuk harta demi bahagia, namun anak-anak disini, hanya dengan permainan sederhana ia bisa bahagia dan lepas.
  • Sungguh setan itu sangat lihai dalam menggoda manusia. Saat manusia kuat dalam satu sektor, ia akan menggoda lewat sektor lainnya. Saat seseorang mampu menjaga tauhid dan sunnah-sunnahnya, setan akan goda lewat tingkatan yang lebih rendah lagi: Dosa dan maksiat atau tersibukkan dengan hal yang sia-sia.
  • Suatu pagi, setan akan berhasil masuk ke hidupmu, memporakporandakan pagimu dengan dosa-dosa dan maksiat. Ia akan menanamkan dogma bahwa dosamu terlalu besar sehingga engkau akan malu dan merasa tak pantas untuk bertaubat. Jika itu terjadi, berlalulah darinya dan berlarilah padaNya. Karena sungguh Allah masih menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum di kerongkongan atau matahari terbit dari arah terbenamnya. Bertaubatlah dan tutupi ia dengan amalan-amalan.
  • Jangan pernah berharap anakmu punya hafalan berjuz-juz sementara kamu hari ini masih berkutat dengan smartphonemu scroll terus menerus melihat halaman orang lain, rutin bermaksiat dan sedikit memenuhi hak Allah
  • Aku membuktikan sendiri bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita.

Barangkali masih banyak kaidah-kaidah yang tak bisa tekonversi sempurna ke dalam tulisan, namun semoga ia terus tertancap dalam kehidupanku selanjutnya. Berlalu biarlah berlalu waktuku. Biarkan ia lepas. Saatnya berjuang untuk hari ini. Waktu berharga kita saat ini. #smngtSMT8!

Jujur sama Allah.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54)

Jika kita bertaubat dan berjanji untuk bangkit dan melakukan perbaikan diri namun ternyata kita masih belum bisa mendaki dari lembah dosa dan kemaksiatan, salah satu sebabnya karena kita belum jujur sama Allah.

Kita membenci kesyirikan tapi masih toleran bahkan mendukung orang-orang musyrik. Kita bilang nyesel ngelakuin bid’ah tapi masih ridho sama perbuatan yang diada-adakan dalam agama. Kita janji gak bakal ninggalin shalat tapi saat adzan terdengar pura-pura gak denger. Kita mengaku salah dalam melihat hal-hal haram, namun masih betah nongkrongin instagramnya si anu dan si anu. Kita berjanji gak bakal denger musik lagi, tapi koleksi musik masih berjejer rapih di laptop. Kita berlindung diri dari perkara ghibah namun tak beranjak dari majelis ghibah yang ada. Kita bertekad menjauh dari hasad namun hobi nongkrongin timeline untuk lihat kesalahan orang lain. Kita meminta harta yang halalan thayyibah namun masih berada di lingkungan yang ribanya kentel.

Kita menangis tatkala kita mendzolimi diri kita sendiri, lalu menyesali dosa-dosa kita tapi kita tak jujur kepada Allah! Permintaan, pernyataan, penyesalan kita kepada Allah tak lantas membuat badan, fisik, jasmani kita bergerak untuk segera melakukan hal yang sebaliknya dari dosa dan maksiat kita! Kita meninggalkan ketaatan, tapi kita gak bersegera melakukan ketaatan setelah menyesal. Kita melakukan dosa dan maksiat, tapi kita gak segera mendaki dari lembah dosa dan masih menunggu-nunggu waktu untuk melakukan ketaatan yang bisa menebus dosa-dosa kita.

Sungguh belumlah kita bertaubat sampai kita benar-benar kita jujur kepada Allah. Dan kejujuran itu akan nampak dari keyakinan, perkataan, dan perbuatan kita. Tahap inilah tahap yang menentukan, apakah taubat kita adalah taubatan nasuha atau bukan. Di tahap puncak inilah seorang manusia diuji hawa nafsunya, mampukah ia merealisasikan penyesalannya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan Allah untuk bersegera dan tak lelah untuk bertaubatan nasuha terus-menerus: ikhlas, menyesali dan membenci perbuatan dosa, berhenti dari perbuatan dosa, jujur dan bertekad untuk meninggalkan dosa dengan keyakinan, perkataan, dan perbuatan kita. Aamiin.

Strategi Setan

screenshot_2016-12-31-20-23-46_1_1

Mindmap menghadapi setan.

Pertama, pahami bahwa semua hal di dunia ini diciptakan seimbang dan berpasangan.

Karena sebab pertama, saat kita merencanakan ketaatan, setan juga akan merencanakan kejahatan kepada kita.

Dan gambar diatas adalah strategi setan dalam menggoda manusia.

Tidaklah seseorang dijerumuskan langsung kedalam kesyirikan melainkan lewat tingkatan yang lebih rendah dulu.

Saat kita lebih sibuk dalam hal sepele dan terus-menerus dilakukan, kita akan sibuk dengan hal-hal mubah.

Saat kita kontinu melakukan hal-hal mubah, kita akan jatuh ke dalam dosa-dosa kecil

Saat kita menyepelekan dosa-dosa kecil, kita akan terjerumus ke dosa-dosa besar

Saat kita belum menyadari kesalahan dan terus melakukan dosa besar, kita akan masuk ke dalam bid’ah dan pembid’ahan

Dan saat kita membiarkan pembid’ahan itu terjadi pada diri kita, kita akan terjatuh pada kesyirikan. Dosa terbesar yang paling besar.

Lalu bagaimana cara menyiasatinya? Lakukan lawan dari itu semua.

Tidaklah kita mulai menyibukan diri dengan hal-hal bermanfaat melainkan kita akan berbuat amalan-amalan kecil.

Tidaklah kita memulai amalan-amalan kecil secara kontinu melaikan akan tercipta amalan-amalan besar

Tidaklah amalan-amalan besar itu dijaga melainkan akan tercipta keteguhan dalam sunnah

Dan tidaklah sunnah itu dijaga melainkan akan menguatkan tauhid kita.

Jangan sibuk di level bawah.

Banyak motivator ulung yang berkecimpung pada level empat atau lima. Berapa uang yang kita keluarkan untuk ini? Banyak. Sementara banyak kajian di rumah-rumah Allah yang mengajarkan cara menyiasati setan pada level satu sampai lima dengan harga gratis! Kadang kita rela menghabiskan uang banyak untuk dunia dan level bawah, tapi sangat bakhil terhadap ilmu menghadapi setan dengan level elite. Ketahuilah, tidaklah kita belajar tauhid melainkan perkara sisanya akan menjadi baik seiring waktu.

Beruntung

Salah satu orang yang beruntung adalah orang yang memiliki kesempatan untuk berbuat dosa namun ia memilih untuk menyia-nyiakannya.

Ia memilih meninggalkan niat untuk berbangga di depan manusia

Ia memilih memendam kata-kata dihatinya daripada ia bicarakan untuk ghibah

Ia memilih berkata baik daripada mengumpat padahal banyak kesempatan

Ia memilih menasehati orang di kala sepi daripada menyindirnya di media

Ia memilih untuk menundukkan pandangan ketika ada kesempatan melihat hal-hal yang haram

Ia memilih sendiri tatkala ada banyak orang yang bukan mahrom “menawarkan” dirinya

Ia memilih menjauhi hal-hal yang diharamkan tatkala ada keempatan

Ia memilih meninggalkan maksiat tatkala tak ada seorangpun bersamanya

Ia lebih memilih perbuatan ahli surga dibanding ahli neraka

Lantas kapan ia merasa beruntung? Kelak di akhirat. Sebagaimana firman Allah:

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imran: 185)

Aksi-Reaksi

Segala tindakan yang engkau terima atau beri tidak lepas dari dua hal:

  1. Berupa aksi yang bisa kau kendalikan dan kelak engkau akan dapat balasannya
  2. Berupa reaksi atas aksimu yang engkau lakukan sebelumnya dan engkau hanya bisa terima dan instrospeksi atasnya

Dan kesemuanya terhimpun dalam takdirNya yang ditulis 50.000 tahun sebelum adanya kita.

Dosa Jariyah.

Seluruh hal di dunia ini ada lawannya kecuali ad dien-Agama Islam. Begitu juga amalan jariyah yang lawannya berupa dosa jariyah. Kadang orang banyak membicarakan tentang amal jariyah dan bagaimana cara menggapainya. Namun kita lupa bahwa ada yang harus kita waspadai yaitu adalah dosa jariyah. Dosa yang terus mengalir setelah kita meninggal.

Dosa jariyah bisa dilakukan oleh seorang manusia tatkala ia mengajak orang lain dalam perbuatan dosa dan maksiat. Kemudian orang tersebut mengabarkan kepada orang lain dan begitu seterusnya.

Ada juga dosa jariyah karena perbuatan kita sendiri yang menulis atau melakukan suatu keburukan di suatu tempat sehingga banyak orang akan masuk ke dalam dosa tersebut.

Dan banyak motif-motif dosa jariyah yang seharusnya kita waspadai…

Melakukan Ketaatan tapi Jatuh dalam Dosa, Tanya Kenapa?

 

Terkadang kita telah melakukan banyak amalan, shalat lima waktu tepat waktu, membaca al qur’an, berpuasa, sedekah dan segala ketaatan kepadaNya, tapi ternyata setelah itu kita jatuh ke dalam dosa dan maksiat… Kenapa bisa? Karena:

  1. “Ada seseorang yang seumur hidupnya beramal dengan amalan ahli surga dan jarak ia dengan surga hanya sejengkal namun sebelum kematiannya ia ternyata melakukan perbuatan ahli neraka, sehingga ia dimasukkan ke neraka…” (Al Hadits) Loh kok bisa? Bisa. Karena mungkin saja selama hidupnya ia beramal fisik, namun ia lalai dalam mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
  2. Tidaklah manusia dibiarkan di muka bumi kecuali ia akan diuji. Dan salah satu ujian dari Allah adalah jatuh dalam dosa dan maksiat. Disini ada tiga kondisi manusia (setelah ia berdosa)
    1. Ia menyadari dosanya dan ia bertaubat serta berbuat kebaikan (bahkan lebih giat berbuat kebaikan dari sebelumnya). Inilah orang-orang yang beruntung dan Allah cintai
    2. Ia menyadari dosanya dan ia tak bertaubat karena ia menyangka Allah tak akan menerima taubatnya. Inilah orang-orang yang merugi dan bersuu’dzan kepada Allah
    3. Ia tak menyadari dosanya dan ia terus tenggelam dalam dosanya. Inilah orang yang tercela.

 

Kalau kita dibenci, dighibah, dicaci karena aqidah kita, maka itu anugerah yang Allah turunkan untuk menghapus dosa-dosa kita. Namun jika kita dibenci karena akhlak kita, maka itu adalah musibah. Karena tak ada satupun sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan ulama yang dibenci karena akhlaknya.

Karenanya, selain memperhatikan aqidah kita, kita juga harus perhatikan akhlak kita. Tidaklah syaithan mendatangi seorang manusia melainkan ia akan mencari titik terlemahnya. Jika orang itu kuat dalam aqidahnya, maka ia akan mendatanginya untuk merusak akhlaknya begitu juga sebaliknya.

Ketika seseorang telah cinta dengan sesuatu, ia tak pernah jenuh berlama-lama dengannya. Sebagaimana para pecinta sosial media yang tak pernah bosan melihat layar gadgetnya. Maka beranikah kita untuk bersaing dengannya? Mereka mencintai sosial media dan berjam-jam dengannya, bagaimana jika kita mencintai Al Qur’an dan berlama-lama dengannya?

Bergantinya hari berarti adalah kesempatan baru untuk melakukan kebaikan dan menyadari kekurangan serta melakukan perbaikan. Karenanya, ada hal yang harus bisa dibanggakan dihadapanNya kelak atas rutinitas harian yang kita lakukan…

Bagaimana Keadaanmu Hari Ini?

Bagaimana keadaanmu hari ini? Entahlah. Hari semakin berlalu sedangkan aku tak tau berapa banyak amalanku yang naik keatas diterima rabbKu. Berapa banyak amalan mubah yang kita niatkan ibadah tumbang karena kehilangan keikhlasan kita hari ini? Banyak. Itupun perhitungan yang kita sadari. Terkadang kita jatuh dan tersesat ditengah jalan ini, lebih memilih jalan mencari ridho selainNya ketimbang surgaNya.

 

Teruntuk Cinta

Teruntuk cinta dan orang-orang yang sedang merasakan cinta. Ketahuilah cinta kepada lawan jenismu adalah sebuah penyiksaan ketika tak segera engkau halalkan. Engkau berandai untuk hidup bersamanya sekaligus engkau khawatir engkau tak bisa hidup bersamanya. Karenanya, cukupkan hal ini dengan dua opsi: Halalkan atau tinggalkan.

Tidakkah engkau khawatir cinta-cinta itu datang ketika cintamu banyak kau tebar, dan setelah bergulirnya waktu engkau telah memilih satu dari banyak cinta itu? Cukuplah cinta itu disegerakan untuk engkau halalkan, bukan engkau investasikan ke bunga-bunga indah yang hanya bisa engkau lihat, tak bisa engkau petik.