Jalan-Jalan Itu Membuatku Bersyukur

Ada waktu-waktu yang membuatku begitu bersyukur. Dimana yang aku lihat saat itu bukanlah yang ada di depan mataku. Melainkan jalan-jalan yang pernah aku lewati. Jalan-jalan penuh kenangan.

Jalan dimana anak-anak kelas XII main bareng ke kebun teh Kaligoa

Perjalanan jauh ke Jakarta bersama Wisnu untuk tes STIS

Jalan dimana bersama konco kontrakan main bareng ke Gedong Songo

Jalan dimana Anak Cowo Tengahan main ke Jogja bareng, ke Umbul Ponggok, ke Pantai sebelah Indrayanti, ke Goa Pindul, ke Sungai Oyo

Perjalanan satu bulan yang terkenang bersama tim KP mesindo 2016

Perjalanan solo ke UI Jakarta

Perjalanan ke UNY untuk mencoba LKTI pertama kalinya

Jalanan Jogja yang penuh kenangan bersama teman-teman Ganesha

Jalan-jalan sempit diantara dua lembah di gunung-gunung yang aku pernah daki

Jalanan lurus yang aku lewati di pantai selatan menuju Ciheras

Penyeberangan dan jalan-jalan rusak di pesisir Karimun jawa

Perjalanan malam Semarang-Solo

Jalan-jalan yang aku lewati untuk sampai rumah

Perjalanan KKL ke Surabaya-Bali

Jalan-jalan di tempat KKNku

Dan perjalanan lainnya

Dan semakin banyak jalan yang terload di memoriku, semakin aku harus bersyukur, betapa Allah banyak memberi nikmat perjalanan. Dengan perjalanan itulah aku lebih banyak menerima pelajaran hidup. Alhamdulillah

 

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al Araf 179)

Semua yang ada di dunia modern ini, mayoritas hanyalah derivatif dari “ushul” atau pokok-pokok kehidupan. Sayangnya, hanya sedikit yang sadar dan terhindar dari ketidakbermanfaatan hal ini.

Contoh: HP komunikasi, makanan pokok: singkong jd apa saja. Penelitian sekarang jarang yang invention, namun lebih ke innovation.

Memeriksa Hati.

ada satu kaidah yang harus engkau cermati, bahwa setan tak mungkin menggoda manusia dengan keadaan hati-hati yang mati. Karena toh tanpa setan goda, mereka telah disesatkan oleh syubhat dan syahwatnya sendiri.

Maka saat engkau berjalan dan engkau masih mampu merasakan godaan-godaan setan yang berusaha membelokkan jalanmu, bersyukurlah karena setidaknya hatimu belum mati dan berdoa serta berusahalah karena ini adalah ujian. Dan tidaklah ujian diberikan kepada seorang hamba melainkan ia pasti bisa menyelesaikannya. Maka periksalah keadaan kita: Apakah hati kita masih sehat? Apakah kita sudah bertaubat hari ini?

Tutupi Aibmu

Tiap insan yang hidup pasti akan diuji. Salah satu dari ujian tersebut adalah ujian dosa. Sementara dosa adalah aib. Dan setiap aib harus ditutupi. Adapun saat ini, orang-orang justru berbangga dengan aibnya. Berbangga dengan dosa yang diperbuatnya. Maka ganjaran orang-orang yang seperti ini adalah tiada ampunan baginya dari Allah.

“Setiap ummatku akan mendapatkan ampunan dari Allah Azza wa Jalla kecuali al Mujaahiriin yaitu semisal ada seorang laki-laki yang mengerjakan sebuah perbuatan (buruk –ed.) pada malam hari kemudian ia menjumpai waktu subuh dan Allah telah menutupi aibnya (berupa perbuatan buruk – ed.). Lalu laki-laki tersebut mengatakan, “Wahai Fulan, aku telah mengerjakan sebuah perbuatan buruk/jelek ini dan itu”. “Maka itulah orang yang malamnya Allah telah menutup aibnya lalu ia membuka aibnya sendiri di waktu subuh (keesokan harinya –ed.)” (Bukhari Muslim)

Lalu apa saja aib-aib yang secara tak sadar telah orang-orang sebarkan? Salah satunya adalah dosa-dosa yang kita sebar lewat status facebook kita, cuitan twitter kita, updatean path, foto-foto instagram.

Ketahuilah, aib adalah penyakit. Maka jangan sekali-kali engkau sebar aib itu atau engkau akan mendapatkan dosa jariyah. Sekalipun engkau mati, dosa yang engkau sebar akan terus mengalir.

Mendapat hidayah itu lebih mudah daripada menjaganya. Salah satu syarat istiqomah adalah hijrah. Meninggalkan teman yang buruk dan mencari komunitas yang baik.  Dan ketahuilah, setan itu memburu orang yang keluar dari komunitas itu. Maka, tetaplah bersama agar istiqomah sampai nafas terakhir. Karena tak ada yang tau pasti kita akan mati dalam kondisi seperti apa.

Orang yahudi berilmu tanpa beramal. Orang nasrani beramal tanpa berilmu. Maka jadilah islam: berilmu dan beramal. Dan dua hal itu adalah realisasi dari doa kita minimal tujuh belas kali sehari: Diberi jalan yang lurus olehNya.

Karena Sekadar Tau Bukan Berarti Melakukan

Dalam beberapa kasus (agama), kita betul-betul mengetahui dua kebenaran dalam agama: Ketaatan itu baik, dan ketidaktaatan itu buruk.

Tapi entah kenapa terkadang kita tidak melakukannya.

Kenapa? Salah satu sebabnya karena kita gak jujur sama diri kita dan sama Allah.

Tidaklah seseorang jujur menginginkan surga dan segala keindahan di dalamnya melainkan ia mengetahui kebenaran (berilmu) dan mengamalkan dengan tuntunan Rasulullah.

Maka beruntunglah orang-orang yang dimudahkan untuk mengilmui dan mengamalkan syariat-syariat islam.

Ingatlah, dunia ini tidak lain hanya ada dua pilihan yang saling meniadakan:

Satu atau nol. Tauhid atau syirik. Sunnah atau bidah. Pahala atau dosa. Surga atau neraka. Taat atau membangkang. Gak ada setengah-setengah.

Teruslah berjalan. Jalan masih terbentang didepan. Bersiaplah engkau dipanggil kapan saja untuk kembali. Pun bersiaplah untuk menempuh jalan nun jauh tiada terkira.

Makanan Jiwa

Makanan jiwa adalah pengakuan dan pujian manusia. Kita ingin diakui akan keberadaan kita. Ketahuilah, makanan jiwa takkan membawa pahala sedikitpun disisi Allah. Maka tanyakan, sudah ikhlaskah diri kita? Ingatlah, satu kunci dari kunci-kunci kesuksesan dunia-akhirat adalah melepaskan semua target dari keridhoan manusia. Karena tak mungkin kita bisa menghindar dari celaannya, sementara pujiannya tak mengangkat derajat kita sedikitpun.

Kuliah Kerja Nyata. Yakin Nyata?

Time flies so fast. Rencana-rencana yang dirancang sedemikian rupa nyatanya sulit direalisasikan dilapangan. Sebahagian pupus tak tersisa, sebahagian rusak tersisa puing-puingnya saja. Yang katanya kuliah sambil kerja nyata, tak sedemikian keren di lapangan. Aku banyak menemukan hambatan internal maupun eksternal di sana.

Teringat salah satu potongan narasi di suatu blog, “aku menyesal bukan karena banyaknya hal salah yang aku lakukan, namun justru aku menyesal karena banyak hal yang aku ingin, tapi aku tak berusaha untuk mencapainya lebih keras lagi waktu itu.”

Nyatanya kini kita dipenghujung waktu. Terus berjalan tanpa merasa iba pada sesal-sesal yang aku tumpuk.


Baiklah, setidaknya memang disetiap perjalanan ada pesan dan kesan, dan aku bersyukur akan pesan dan kesan itu. Aku bersyukur di tempatkan di tempat yang di luar ekspektasiku dan benakku bahwa KKNku akan begini, sehingga aku dapat pelajaran lebih banyak. Aku bersyukur karena aku masih bisa kembali dengan selamat dan membawa banyak kaidah hidup baru. Dan aku bersyukur atas kehidupanku dan rumah keduaku di Semarang ini. Ternyata masih ada di sisi dunia lain sana yang berjuang bukan hanya dalam hal materi, tapi juga perbaikan karakter individu.

  • Untuk mengubah kehidupan seseorang, karakter seseorang, kita tidak mungkin bisa mengubahnya dalam waktu sekejap. Butuh proses dan waktu yang lama. Karena karakter tertancap dalam pikiran, dilakukan setiap hari dan ia jarang untuk bertanya lebih dalam: “Dari mana asalnya, apakah sudah benar? Apa akibatnya kalau salah? Apakah bisa dibuat menjadi lebih baik?” Nyatanya untuk merubah lingkungan dimulai dari diri kita sendiri. Kemudian kita contohkan melalui perilaku dan baru lisan kemudian tindakan. Dan itu sulit bagiku. Bahkan untuk mengubah diri sendiripun butuh ilmu lagi. Karena ternyata tak cukup mengetahui kebenaran untuk jadi orang yang benar. Karena seringkali kita tak jujur pada Allah. Karena akal dan hawa nafsu kita menarik jauh dari kebenaran.
  • Lagi-lagi soal ilmu. Iya. Al ilmu qobla qoul wa amal. Ilmu sebelum berkata dan beramal. Disini aku sekali lagi dingatkan untuk bersyukur atas ilmu yang diberikan olehNya. Karena ternyata masih banyak orang yang jauh dari ilmu. Sungguh, musibah terbesar seorang manusia di muka bumi adalah hati yagn keras, sehingga ia jahil dan jauh dar ilmu agama.
  • Selanjutnya adalah tentang sunnah dan bid’ah. Mereka itu gak pernah bisa bersatu dan saling meniadakan. Saat engkau menjalankan sunnah, engkau akan membenci bid’ah dan enggan melakukannya. Begitu juga sebaliknya, saat engkau melakukan bid’ah, engkau akan sinis terhadap sunnah dan engkau akan enggan melakukan sunnah sekecil apapun itu.
  • Kebahagiaan itu kita yang ciptakan. Betapa banyak orang-orang yang menumpuk harta demi bahagia, namun anak-anak disini, hanya dengan permainan sederhana ia bisa bahagia dan lepas.
  • Sungguh setan itu sangat lihai dalam menggoda manusia. Saat manusia kuat dalam satu sektor, ia akan menggoda lewat sektor lainnya. Saat seseorang mampu menjaga tauhid dan sunnah-sunnahnya, setan akan goda lewat tingkatan yang lebih rendah lagi: Dosa dan maksiat atau tersibukkan dengan hal yang sia-sia.
  • Suatu pagi, setan akan berhasil masuk ke hidupmu, memporakporandakan pagimu dengan dosa-dosa dan maksiat. Ia akan menanamkan dogma bahwa dosamu terlalu besar sehingga engkau akan malu dan merasa tak pantas untuk bertaubat. Jika itu terjadi, berlalulah darinya dan berlarilah padaNya. Karena sungguh Allah masih menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum di kerongkongan atau matahari terbit dari arah terbenamnya. Bertaubatlah dan tutupi ia dengan amalan-amalan.
  • Jangan pernah berharap anakmu punya hafalan berjuz-juz sementara kamu hari ini masih berkutat dengan smartphonemu scroll terus menerus melihat halaman orang lain, rutin bermaksiat dan sedikit memenuhi hak Allah
  • Aku membuktikan sendiri bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita.

Barangkali masih banyak kaidah-kaidah yang tak bisa tekonversi sempurna ke dalam tulisan, namun semoga ia terus tertancap dalam kehidupanku selanjutnya. Berlalu biarlah berlalu waktuku. Biarkan ia lepas. Saatnya berjuang untuk hari ini. Waktu berharga kita saat ini. #smngtSMT8!

Jujur sama Allah.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54)

Jika kita bertaubat dan berjanji untuk bangkit dan melakukan perbaikan diri namun ternyata kita masih belum bisa mendaki dari lembah dosa dan kemaksiatan, salah satu sebabnya karena kita belum jujur sama Allah.

Kita membenci kesyirikan tapi masih toleran bahkan mendukung orang-orang musyrik. Kita bilang nyesel ngelakuin bid’ah tapi masih ridho sama perbuatan yang diada-adakan dalam agama. Kita janji gak bakal ninggalin shalat tapi saat adzan terdengar pura-pura gak denger. Kita mengaku salah dalam melihat hal-hal haram, namun masih betah nongkrongin instagramnya si anu dan si anu. Kita berjanji gak bakal denger musik lagi, tapi koleksi musik masih berjejer rapih di laptop. Kita berlindung diri dari perkara ghibah namun tak beranjak dari majelis ghibah yang ada. Kita bertekad menjauh dari hasad namun hobi nongkrongin timeline untuk lihat kesalahan orang lain. Kita meminta harta yang halalan thayyibah namun masih berada di lingkungan yang ribanya kentel.

Kita menangis tatkala kita mendzolimi diri kita sendiri, lalu menyesali dosa-dosa kita tapi kita tak jujur kepada Allah! Permintaan, pernyataan, penyesalan kita kepada Allah tak lantas membuat badan, fisik, jasmani kita bergerak untuk segera melakukan hal yang sebaliknya dari dosa dan maksiat kita! Kita meninggalkan ketaatan, tapi kita gak bersegera melakukan ketaatan setelah menyesal. Kita melakukan dosa dan maksiat, tapi kita gak segera mendaki dari lembah dosa dan masih menunggu-nunggu waktu untuk melakukan ketaatan yang bisa menebus dosa-dosa kita.

Sungguh belumlah kita bertaubat sampai kita benar-benar kita jujur kepada Allah. Dan kejujuran itu akan nampak dari keyakinan, perkataan, dan perbuatan kita. Tahap inilah tahap yang menentukan, apakah taubat kita adalah taubatan nasuha atau bukan. Di tahap puncak inilah seorang manusia diuji hawa nafsunya, mampukah ia merealisasikan penyesalannya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan Allah untuk bersegera dan tak lelah untuk bertaubatan nasuha terus-menerus: ikhlas, menyesali dan membenci perbuatan dosa, berhenti dari perbuatan dosa, jujur dan bertekad untuk meninggalkan dosa dengan keyakinan, perkataan, dan perbuatan kita. Aamiin.

Strategi Setan

screenshot_2016-12-31-20-23-46_1_1

Mindmap menghadapi setan.

Pertama, pahami bahwa semua hal di dunia ini diciptakan seimbang dan berpasangan.

Karena sebab pertama, saat kita merencanakan ketaatan, setan juga akan merencanakan kejahatan kepada kita.

Dan gambar diatas adalah strategi setan dalam menggoda manusia.

Tidaklah seseorang dijerumuskan langsung kedalam kesyirikan melainkan lewat tingkatan yang lebih rendah dulu.

Saat kita lebih sibuk dalam hal sepele dan terus-menerus dilakukan, kita akan sibuk dengan hal-hal mubah.

Saat kita kontinu melakukan hal-hal mubah, kita akan jatuh ke dalam dosa-dosa kecil

Saat kita menyepelekan dosa-dosa kecil, kita akan terjerumus ke dosa-dosa besar

Saat kita belum menyadari kesalahan dan terus melakukan dosa besar, kita akan masuk ke dalam bid’ah dan pembid’ahan

Dan saat kita membiarkan pembid’ahan itu terjadi pada diri kita, kita akan terjatuh pada kesyirikan. Dosa terbesar yang paling besar.

Lalu bagaimana cara menyiasatinya? Lakukan lawan dari itu semua.

Tidaklah kita mulai menyibukan diri dengan hal-hal bermanfaat melainkan kita akan berbuat amalan-amalan kecil.

Tidaklah kita memulai amalan-amalan kecil secara kontinu melaikan akan tercipta amalan-amalan besar

Tidaklah amalan-amalan besar itu dijaga melainkan akan tercipta keteguhan dalam sunnah

Dan tidaklah sunnah itu dijaga melainkan akan menguatkan tauhid kita.

Jangan sibuk di level bawah.

Banyak motivator ulung yang berkecimpung pada level empat atau lima. Berapa uang yang kita keluarkan untuk ini? Banyak. Sementara banyak kajian di rumah-rumah Allah yang mengajarkan cara menyiasati setan pada level satu sampai lima dengan harga gratis! Kadang kita rela menghabiskan uang banyak untuk dunia dan level bawah, tapi sangat bakhil terhadap ilmu menghadapi setan dengan level elite. Ketahuilah, tidaklah kita belajar tauhid melainkan perkara sisanya akan menjadi baik seiring waktu.

Beruntung

Salah satu orang yang beruntung adalah orang yang memiliki kesempatan untuk berbuat dosa namun ia memilih untuk menyia-nyiakannya.

Ia memilih meninggalkan niat untuk berbangga di depan manusia

Ia memilih memendam kata-kata dihatinya daripada ia bicarakan untuk ghibah

Ia memilih berkata baik daripada mengumpat padahal banyak kesempatan

Ia memilih menasehati orang di kala sepi daripada menyindirnya di media

Ia memilih untuk menundukkan pandangan ketika ada kesempatan melihat hal-hal yang haram

Ia memilih sendiri tatkala ada banyak orang yang bukan mahrom “menawarkan” dirinya

Ia memilih menjauhi hal-hal yang diharamkan tatkala ada keempatan

Ia memilih meninggalkan maksiat tatkala tak ada seorangpun bersamanya

Ia lebih memilih perbuatan ahli surga dibanding ahli neraka

Lantas kapan ia merasa beruntung? Kelak di akhirat. Sebagaimana firman Allah:

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imran: 185)