islam

Makna “innalillahiwainnailaihirojiun”

Ada makna terkandung dalam “innalillahiwainnailaihirojiun”

Sesungguhnya segala yang kita “punya” bukanlah yang kita miliki, segalanya. Kita hanyalah dititipi untuk melaksanakan ujian, apakah kita berhasil menjaganya dengan cara menggunakannya dengan baik dan bersyukur, atau gagal, sombong dan menggunakannya untuk maksiat.

“innalillahiwainnailaihirojiun” adalah statement yang menyatakan ketiadaan apa yang kita miliki di dunia, segalanya. Apapun itu. Harta, materi, skill, kemampuan, indera-indera kita, semuanya…

Iklan
lesson

Dont Follow Your Passion!

Di era millenial ini,istilah “passion” seakan menjadi trademark dalam banyak seminar motivasi. Follow your passion katanya.

Benarkah? Bisa jadi.

Namun di zaman yang serba ada dan serba bisa ini, sebenarnya mudah saja untuk mengikuti passion. Namun jika keadaan yang Allah takdirkan tak mengizinkan, bisa apa?

Coba mari kita tinjau kembali benarkah dalam hidup kita harus “follow passion?” Pertanyaan ini cocok diutarakan pada mantan mahasiswa yang telah sukses menempuh gelar sarjananya. “Lalu, setelah ini, apa?” Katanya.

Nyatanya, disini kita belajar untuk bertauhid. Apakah hanya Allah satu satunya yang harus kita tuju? Passion ini, yang sering dihubungkan dengan perkara dunia, sebenernya adalah ujian.

Jika takdirNya tak mengijinkan kita untuk follow passion, apakah kita akan menggugat takdirNya? Apakah kita akan memaksa, apapun caranya harus follow passion?

Oke, itu pertama dan paling penting. Kedua, coba kita tengok, hari ini, dan kedepan, apakah yang akan terjadi? Penduduk semakin banyak, sejalan dengan persaingan dan kesempatan yang semakin banyak, secara umum. Teknologi modern akan mengganti sebagian besar teknik konvensional. Jika passion seseorang pada dimensi konvensional, akankah harus dipaksakan?

Last, i agree with this video. Itu mencerminkan gagasanku saat ini sebagai seorang fresh graduate. Mencari peluang, got skill on it, then you will got your passion. Just simple like that, passion jaman now, for me.

quote

Pasti ada yang salah dalam dirimu, ketika lebih tertarik untuk membaca dan mengambil pelajaran buku yang mengangkatmu tinggi di dunia, namun tak tertarik dengan buku pegangan setiap muslim… #notetoself

general

Syarat Hidup

Generasi Sebelumnya

Ada seorang operations manager dari sebuah client kantor gue – yang cool banget. Kita undang dia makan siang dan nasinya keras. Kita sebagai vendor yang baik, meminta maaf. Dia bilang,

“Gak papa. Justru saya suka nasi keras. Gak suka tuh saya, beras sushi.”

“Kok sukanya nasi yang keras Pak?” I cannot help but to ask.

“Iya, orang tua saya ngajarin jangan pernah buang makanan. Nasi kemarin juga kita makan.”

This may be simple. But this, blew my mind.

Dan setelah gue menjadi orang tua, di sini lah gue lihat banyak orang tua mulai mengambil langka yang tidak disadari, berdampak.

“Saya waktu kecil, miskin. Saya pastikan anak-anak saya mendapatkan yang terbaik, termahal.”

“Waktu kecil, saya makan aja susah. Saya pastikan mereka itu sekarang makan enak.”

“Waktu kecil, saya belajar ditemani lilin dan 2 buku. Sekarang anak saya, saya sekolahkan ke Inggris.”

We experienced the worst and therefore we tend to give the best.

The question is, is the best…is what our children need? Really?

(edited 13 OCT: berdasarkan input dari sdri Leony dalam section comment, saya tambahkan: sebelum teman-teman pembaca yang pernah kuliah di luar menjadi tersinggung, saya ingin tekankan bahwa tidak ada yang salah dengan menyekolahkan anak ke luar negeri. Kemewahan tidak ada batasnya dalam hal pendidikan.)

Orang sukses itu menjadi sukses karena (1) dididik dengan benar, terlepas dari dari apakah dia kaya atau miskin (2) dididik oleh kesulitan yang dia hadapi.

Kita akui ada anak orang kaya yang tetap jempolan attitudenya dan perjuangannya. Tapi kita lihat kebanyakan orang sukses juga dulunya sulit. Kesulitan (dalam beberapa kasus, kemiskinan) itu yang menjadi drive orang-orang untuk menjadi sukses. Ini adalah resep yang nyata. Kesulitan yang orang-orang sukses ini hadapi adalah ladang ujian di mana mereka menempa diri mereka menjadi orang sukses.

Pertanyaannya, jika kita ingin mencetak anak-anak yang bermental baja, kenapa kita justru memberikan semua kemudahan? Kenapa justru kita hilangkan semua kesulitan itu?

Karena dengan menghilangkan kesulitan-kesulitan itu, justru kita menciptakan generasi yang syarat hidupnya banyak.

Generasi Berikutnya

Apa yang terjadi dengan dari hasil thinking frame ‘dulu saya susah, saya tidak ingin anak saya susah’? Ini yang terjadi:

Anak dari teman ibu gue terbiasa makan beras impor thailand. Di 98, kita terkena krisis dan orang tuanya tdiak lagi mampu beli beras impor. Yang terjadi adalah, anaknya gak bisa makan.

Ada anak dari teman yang terbiasa makan es krim haagen dasz, ketika pertama kali makan es krim lokal, dia muntah.

Ada cucu yang ngamuk di rumah neneknya karena di rumah nenek, gak ada air panas.

Gue tidak mencibir mereka. Apa adanya seorang manusia itu terjadi dari nature dan nurture. Semua ini, adalah nurture.

Bahkan di kantor pun sama. Di kantor kebetulan gue jadi mentor seseorang (saat ini). Dalam sebuah kesempatan, dia pernah berkata “Duh, gak nyaman di posisi ini.”

Di lain kesempatan, “Sayang ya, si X resign, padahal dia membuat saya nyaman di kantor sini.”

Pada kali kedua gue mendengar mentee gue ngomong ini, gue mulai masuk “Kamu sadar gak, kamu udah 2 kali menggarisbawahi bahwa kenyamanan dalam kerja itu, penting bagi kamu.”

“…”

“Emang sih idealnya nyaman. Tapi sayangnya, this is life. We don’t get to pick ideal situations. Sometimes we need to settle with what we have and deal with it.

Tentang kenyamanan, coba jadikan itu sebagai sesuatu yang ‘nice to have’ dan bukan ‘must have’.”

What to Do?

Gue menyukai cara Sultan Jogja mendidik anak-anaknya. Gue pernah dengar bahwa di saat batita, anak sultan dikirim untuk hidup di desa. Makan susah, main tanah, mandi di sumur. Intinya, meski dia anak sultan, dia tidak tahu bahwa dia anak sultan dan dia merasakan standar hidup yang rendah – dan merasa cukup dengan itu. Setelah agak besar, dia kembali ke istana. Dampaknya, semua Sultan, bersikap merakyat. Dia makan steak, tapi dia tahu bahwa steak yang dia makan adalah sebuah kemewahan. Bukan sebuah syarat hidup niminum.

Gue pun memiliki syarat-syarat hidup. Semenjak menjadi seorang bapak, gue berubah total dan gue kikis hilang itu semua. Karena gue tidak ingin anak-anak gue memiliki syarat hidup yang banyak. Dan satu-satunya cara memastikan itu terjadi adalah bahwa gue pun tidak boleh memiliki syarat hidup banyak.

Gue memilih (edited 13 OCT) untuk  mengajak mereka naik kopaja atau transjakarta setiap hari ke sekolah, sebelum mereka merasakan bahwa naik angkutan umum itu, rendah. Tidak ada salahnya naik mercy ke sekolah. Sama dengan tidak ada salahnya naik kopaja (tentunya gue ikut nemenin, secara jaman sekarang banyak pedofil).

Gue memilih (edited 13 OCT) untuk membiarkan mereka tidur di lantai (ketika mereka tidak sengaja terlelap tidur. Gue tidak lantas mengangkat mereka ke dalam kamar mereka). Siapa tahu suatu saat nanti mereka harus terus-terusan.

Gue memilih (edited 13 OCT) untuk mematikan AC saat mereka tidur – siapa tahu mereka suatu saat cannot afford air conditioning.

Gue memilih (edited 13 OCT) untuk tidak menginstall air panas karena gue ingin anak-anak gue baik-baik saja jika suatu saat nanti mereka tiap hari harus mandi air dingin. (meski tidak ada yang salah dengan menginstall air panas),

Gue memilih (edited 13 OCT) untuk melarang mereka main tablet karena gue ingin mereka tidak tergantung dengan kemewahan itu.

Gue melarang mereka menilai teman dari merk mobil mereka karena merk mobil itu gak pernah penting, dan gak akan penting.

Kita pergi ke mall memakai kopaja. And we have fun ketawa-ketawa, seperti jutaan orang lain.

Gue tidak membuang nasi kemarin yang memang masih bagus. Instead gue makan sama anak-anak gue. Siapa tahu suatu saat, that is all they can afford. Agak keras. And we like it.

We teach them to pursue happiness so that they learn the value and purposes of things. Not the price of things.

Nasi kemarin yang masih perfectly safe to eat, masih punya value. Kopaja dan mercy memiliki purpose yang sama, yaitu mengantar kita ke sebuah tempat.

AC atau gak AC memberikan value yang sama. A good night sleep.

Kenapa semua ini penting? Kita harus ingat bahwa generasi bapak kita adalah generasi yang bersaing dengan 3 milyar orang. Mereka bisa mengumpulkan kekayaan dan membeli kemudahan untuk generasi kita. Kita harus bersaing dengan 7 milyar orang. Anak kita nanti mungkin harus bersaing dengan 12 milyar orang di generasi mereka.

One needs to be a fucking tough person to be able to compete with 12 billion people. Dan percaya lah, memiliki syarat hidup yang banyak, tidak akan membantu anak-anak kita bersaing dengan 12 milyar orang itu.

Itu aja sih.

Edited 13 OCT: berdasarkan input dari sdri Leony dalam section comment, saya tambahkan: Just in case masih ada yang belum menangkap inti dari blog ini, intinya adalah, mendidik seorang anak dalam 1 ekstrimitas (selalu frugal atau selalu mewah) tidak baik. Tidak baik bukan dari standar atau sisi pandang seorang Adhitya Mulya, tapi tidak baik dari sisi pandang siapa pun di mana pun. tidak baik by any  standard. Apa jadinya seorang anak selama ini hanya tahu susah tiba-tiba dapat rizki 1 milyar? Jadi teringat kasus turis cina daratan yang buang air besar di trotoar luar toko tas di Inggris. Rizki berubah, mentalitas tidak. Apa jadinya jika seorang anak hanya tahu kemewahan? Hidup serasa mati jika tidak ada 1 hal enteng saja.

Kita semua orang tua dan sensitif jika dibilang ‘cara ini salah, cara itu salah’. Semua cara terserah kita masing-masing – tidak ada yang benar. Gue sendiri banyak menulis ‘memilih untuk’. Feel free to make your choices. Jadi, saya akan memulai banyak posting ke depan dengan berkata: kalau saya sih… dan Saya memilih untuk…

Untuk menutup posting ini, kalau saya sih, ketika mendapat rizki berlebih, bukannya meningkatkan kemewahan. Tapi memperkenalkan ragam kemewahan yang ada. makan tempe, makan steak. Liburan ke X, liburan ke Y. Memperkenalkan ragam tingkat kemewahan dari yang paling sederhana asampai yang paling mewah yang saya mampu, agar  anak-anak mengenal apa itu susah, sebelum mereka mengeluh. Agar anak-anak mengenal apa itu mewah, sebelum mereka kaget dan tidak bijak mengelolanya.

Repost from http://suamigila.com/2015/10/syarat-hidup.html

lesson

Power of Sedekah (Again)

Pekan lalu, aku merasakan lagi bahwa Allah benar-benar membalas setiap hal yang digunakan untuk kebaikan, dan untuk agama Islam. Dan Alhamdulillah Allah membalas langsung apa yang aku lakukan pada dua pekan lalu di pekan lalu.

Heres the story.

Jumat sore itu, dua pekan lalu, aku masih bersantai bersama Ibu di rumah. Tetiba ada pak pos yang mengantar surat atas namaku. Cukup kaget, karena aku tak sedang bertransaksi apapun. Setelah dibuka, ternyata dari voucher dari pertamina senilai 500.000. Alhamdulillah . Berhubung aku besok pergi ke Semarang, dan sabtu pekan depannya Ibu berencana menjemput adikku, maka aku serahkan setengah voucher BBM tersebut kepada Ibu. Aku sungguh tak berharap apa-apa waktu itu, karena pun jangka waktu penggunaan voucher itu hanya sampai akhir tahun 2017.

Sabtu aku sudah di Semarang. Berhubung kawan-kawan kontrakan masih belum pulang, aku bagi deh voucher itu lagi senilai 100 ribu. Sisanya aku gunakan untuk perjalananku ke Jogja esok hari.

Entah kenapa aku sangat enjoy menjalani 3 hariku di Jogja. Target yang aku set pun terpenuhi semua. Dari mulai dua seleksi kerja yang ternyata belum rejekiku, bertemu dengan teman dari Klaten, mampir ke maskam UGM, hingga maintenance ELITRAP, prototipe alat pembasmi hamaku di Bantul.

Entah kenapa pada hari terakhir, setelah mengobrol dengan mbak Arin, relasi dari KSE untuk penerapan teknologi ELITRAP, pihak KSE kemudian memberi respon positif untuk mencairkan dana 50% ku yang bernilai lebih dari dua juta. Alhamdulillah.

Pada hari yang sama, aku dihubungi oleh PT. KPI untuk melanjutkan tes berikutnya, yang sebenarnya aku sudah pingin move on darinya. Alhamdulillah.

Pagi menjelang siang, aku cukup khawatir aku tak bisa menjangkau Semarang di sore harinya karena ada jadwal online interview dengan PT. UNISEM. Ternyata selang beberapa menit dari telepon PT. KPI, pihak PT. UNISEM mengajukan reschedule untuk lusa sore. Alhamdulillah.

Belum berhenti sampai situ, sesampainya di Semarang, aku teringat punya dana 70% dari pembatalan kereta, sekitar 140an ribu. Akhirnya aku ambil . Alhamdulillah.

Terakhir, setelah ada info dana PKM bisa dicairkan, bergegas aku mengurusnya, untuk di transfer ke tim dan menutup rekening pada saat itu juga. Alhamdulillah, lumayan 300 ribu.

Kalau di hitung-hitung, Allah ternyata membalas apa yang aku beri ke orang lain hingga 8x lipat lebih. Allahu Akbar! Kurang baik apa lagi Allah sama kita? :”

“dan terhadap nikmat dari Rabb-mu, maka nyatakanlah (dengan bersyukur).” Semoga menginspirasi untuk terus berbuat baik dengan tak lupa berlandaskan tauhid.

quote

#nasehatdiri

In the end, kita semua akan sadar, di dunia, kita hanya bersaing dengan diri sendiri saja. Bersaing dengan keinginan duniawi, nafsu diri, dan ego diri.

Its okay kita tak sehebat, setinggi, atau sebanyak orang lain. Karena persaingan dengan diri kita hanya berbicara tentang bagaimana kita menjalani hidup sebaik-baiknya, pada koridor takdir kita, pada timeline waktu kita masing-masing.

So, satu-satunya hal yang harus dikhawatirkan adalah, kita banyak melihat orang lain yang kita tak dibebani untuk seperti mereka, sehingga lalai untuk memperbaiki diri, sedikit berbekal untuk waktu yang tak kita ketahui kapan akan terhenti.

story

Me in Last 2017.

Ada banyak hal yang mau aku tulis, tapi entah kenapa aku tercekat untuk membicarakannya, apalagi menulisnya. Banyak hal yang bukan berupa pertanyaan, lebih ke arah prinsip hidup yang aku bagikan, life point of view on me. Aku masih mencoba untuk meraba ingatan-ingatan di sepanjang jalan atau lamunan sebentar kala itu, tentang kehidupan, tentang sosial, tentang perasaan, banyak hal. Semoga itu terkumpul dalam beberapa post ke depan sembari mengisi waktu, dan menunggu ada perusahaan yang beruntung mendapatkan pegawai seperti aku, walau sebenarnya aku tak benar-benar ingin jadi pegawai. 😦


Kawan, mari kita mulai. Apa sebenarnya yang orang lakukan setiap hari-nya? Tentu ini pertanyaan retoris. Namun bagi mereka yang tak punya tujuan, ini akan menjadi pertanyaan besar. Bagi orang yang menganggap pertanyaan itu retoris, mungkin sebagian melakukan hidup sebagai rutinitas mengikuti aliran kehidupan saja, tak lebih.

Bagiku, segala sesuatu hal dalam hidup haruslah memiliki tujuan. Dan sebagai muslim, tujuan itu tidak lain adalah beribadah kepadaNya. Apakah banyak manusia yang bisa memaknai ayat-ayat akhir surat Adz-Dzariyat itu? Wallahu alam. Namun untukku, kadang diri ini terkaburkan oleh gemerlap dunia untuk memahami prinsip ini dalam berkehidupan.


UPDATE 11/12

Bicara tentang sosial media, banyak hal yang bisa dideskripsikan tentunya. Namun bagiku, sosial media tidak lain hanyalah untuk komunikasi dan sharing.Bermanfaat or no? Tergantung dari perspektif masing-masing. Namun di akhir tahun ini, aku mencoba untuk menonaktifkan sebagian besar sosial media Yah, selagi masih ada waktu untuk itu.

Akankah ada orang yang mencariku? Mungkin saja. Mungkin mereka yang butuh denganku, bukan aku butuh dengannya. Aku sudah cukup lelah untuk mencari bantuan dari manusia lain, yang seringkali hanya basa-basi tidak menyelesaikan inti masalah yang ada. Its fine, aku dapat sight dari pandangan mereka, but it is no stroung enough for me to make a decisions.

Yang sebenarnya terjadi, in my sight, adalah hampir tidak ada yang peduli denganku di sosial media. Mereka hanya ingin diri mereka tercitra bagus dihadapan manusia lain. Atau mereka berkomunikasi jika dan hanya jika mereka ada kebutuhan, tidak lebih. Tak ada yang peduli tentang kondisimu seperti apa, how’s your feel, and other things. Hanyalah keluargamu yang peduli akan itu. Dan jika keluagaku ada didepanku, maka sesungguhnya sosial media tidaklah berarti sama sekali bagi seorang penunggu sepertiku.


Bicara soal pekerjaan, akan banyak dilema melanda. Akhir-akhir ini, aku sering banyak memandang kedepan. Jikalau orangtuamu PNS, maka hidup keluargamu cukup dan mencukupi. Namun sungguh, PNS tidaklah dapat diturunkan ke anakmu. Kelak, anakmu haruslah berjuang dari nol lagi untuk mencapai hal yang setidaknya selevel atau lebih tinggi dari PNS.

Now, how about bussiness? Mungkin hidup keluargamu akan pas-pasan saat kau merintis bisnis saat ini. Tapi setelah anakmu besar, ia tetap bisa memilih jalan hidupnya sendiri of course, tapi setidaknya usahamu yang dengan izin Allah bisa besar, bisa menjadi opsi besar anakmu untuk melanjutkannya menjadi lebih besar lagi.

Kenapa semua ini penting? Kita harus ingat bahwa generasi bapak kita adalah generasi yang bersaing dengan 3 milyar orang. Mereka bisa mengumpulkan kekayaan dan membeli kemudahan untuk generasi kita. Kita harus bersaing dengan 7 milyar orang. Anak kita nanti mungkin harus bersaing dengan 12 milyar orang di generasi mereka (Sumber: Syarat Hidup, suamigila.com)

So, ada dua pilihan hidup yang masih aku raba di akhir tahun penghujan ini. Selamat pagi Senin yang cerah!, selamat beraktivitas! 🙂

ada hal bermakna pada tiap detik berlalu. Jika kau tangkap makna itu, dan jadikan pelajaran panjang hidupmu, kau akan tau apa dunia dan seisinya itu. Lihatlah mata yang memandangmu kala mengobrol, kau bisa tau apa yang ada dalam dirinya. Lihatlah jalanan yang membawamu pergi ke suatu tempat, kau akan tau makna perjalanan itu. Lihatlah sekelilingmu, aktivitas yang orang lain lakukan, engkau akan tau makna mereka melakukan itu semua. Ada hal yang harus diperjuangkan. Jika kau belum punya hal yang layak diperjuangkan, periksa lagi imanmu, mungkin imanmu sedang lemah. Karena hal yang sangat patut diperjuangkan adalah surgaNya.

story

After-College Lifeway.

Kehidupan setelah kuliah rasanya sangat berbeda, for me. Saat kuliah dituntut banyak target dan pencapaian. Sekarang? Sudah tercapai semua. Tanpa target merupakan hal yang cukup mengerikan buatku pribadi.

Mungkin aku perlu mengulang materi tentang kepuasan sebuah perusahaan yang bisa mengantarkan pada kebangkrutan. Ialah nokia, yang melirik sebelah mata inovasi android, dan berbangga serta merasa tinggi dengan java dan symbian yang diusungnya. Ia cepat puas dengan inovasi yang ada. Dan akhirnya, “we didnt something wrong, but somehow we lost”. Kata itu terucap dari seorang CEO Nokia. Bangkrut.

Dilema. Ada banyak pilihan hidup yang aku tentukan setelah kuliah. Pengusaha makanan? Pengusaha jamur? Membuat perusahaan keteknikan profesional? Membuat jasa konsultan dari nol? Mencari pekerjaan? Freelancer? Studi lanjut? Dan masih banyak lagi.

Namun ternyata keadaan dan dorongan orang tua membawa hati ini condong untuk berusaha menghidupi diri sendiri dan keluarga secepatnya. Mungkin saat ini aku prefer untuk jadi jobseeker.

Jadi jobseeker bukanlah hal yang begitu mudah, tapi gak begitu sulit juga. Berikut pengalaman jobseeker-ku yang masih berlanjut hingga desember ini:

  • PT. Star Cosmos (gagal psikotes). Singkat cerita, aku apply via UCC dan mendapat panggilan psikotes di gedung FH. Ketemu kawan sejurusan merupakan semangat tersendiri. Namun Allah belum menakdirkanku disini. Ada satu kawan yang lolos ke interview di hari yang sama. So happy.
  • Job Fair ITB. Pasukan aku dapat dari grup wisuda November yang sekarang menjelma menjadi multichat khusus orang yang ngebet kerja, isinya orang orang elektro 13 aja. Singkat cerita, aku, Surya, Arief s, momon, Lidya, elza, uffan, Gofur, Fauzan, Indra apply banyak dan menghasilkan banyak peluang disini. Alhamdulillah.
  • Astra Internasional: AHM (menunggu, anggaplah gagal). Dari ITB jobfair kemarin, akhirnya aku berangkat ke Jakarta sendiri. Sudah biasa. Lokasi test psikotes waktu itu di Astra internasional Sunter. Ternyata ada sekitar 80an yang ikut. Setelah 2 pekan menunggu, ternyata aku disuruh menunggu lebih lama. Okey, anggap saja gagal.
  • PT. Kaltim Parna Industri (anggaplah gagal!)
  • PT. Krakatau Steel (gagal pra-kualifikasi). Sedih, kesal, emosi kalau denger seleksi KS nih. Lupakan saja KS.
  • PT. Poso Energi (gagal interview). Disini aku belajar, ternyata aku masih sok Sokan. Merendahkan orang lain. Masih dengan sifat sifat buruk ku. Dan akhirnya aku terjatuh! Dari 17 kandidat aku tak menjadi 2 terbaik! But Alhamdulillah. Mungkin jika aku keterima aku akan jauh dari keluarga.
  • PT. Astra Daihatsu Motor (gagal psikotes). Its my fault. Kurang persiapan. Mental gak beres. Dan gagal.
  • PT. Bukit Asam (GAGAL!). Gak nyangka udah gagal di tahap pre-eliminary :”. Move on!!!
  • PT. PLN (proses)
  • Asahimas FG (proses, anggaplah gagal)
  • PT. Radiant Utama Interinsco (gagal psikotest). Dari satu kloter berisi 70 orang, hanya diambil 4-8 orang. Fail di tes kraeplin.
  • PT. Great Giant Food (gagal psikotest). Tes yang hampir mirip dengan PT. RUI, ditambah tes kepribadian PAPI. Aku kira kraeplin sudah stabil, tapi masih terlalu manipulatif. Haha. Fail juga di PAPI.
  • PT. UNISEM (offering, online interview). Unik sih. Interview telepon dan skype pertama. Dan interview yang full english pertama.
  • United Tractors (psikotes)
  • OMRON (gak diambil, tabrakan)
  • AISIN (psikotes)
  • AMARTHA KARYA (gak diambil, tabrakan)
  • BEKAERT (psikotes, gak diambil, tabrakan)
  • Graha Power Kaltim (interview HR via call)

Ternyata Allah memberikanku banyak pelajaran melalui perjalananku sampai saat ini. Betapa aku banyak tidak sabar, merasa bisa, tinggi hati, dan banyak kekurangan dariku yang dengan sangat mudah Allah bantahkan. Ternyata aku harus belajar lagi, beramal lagi, bersabar lagi. (06/12/17. Setelah gagal KS & PE)

story

Masih Berjalan

Hari hari ini masih berjalan tanpa henti. Ia tak menunggumu siap, barang sedetik. Maka barangsiapa telah bersiap sebelum hari yang lebih menyibukkan lagi, ialah orang yang beruntung.

Kira-kira 2 bulan terakhir, banyak sekali peristiwa yang aku alami. Peristiwa duka ataupun suka. Rutinitas yang aku bangun di awal tahun, kini hanya tersisa sebagian, atau bahkan sedikit saja. Semua banyak berubah.

Awal September lalu, diri ini memulai perjalanan meletihkan itu, tidur yang hanya 3-4 jam sehari. Berhadapan dengan hardware dan tumpukan laporan yang harus usai pekan ke-2. Tak, aku tak merasa terbebani sangat dengan itu. Aku merasa itu tanggung jawab. Setelah akhir Agustus lalu aku meminta izin kepada kedua orangtuaku untuk menunda pulang, walau sebenarnya waktu itu Bapak sedang sakit.

Alhamdulillah akhir September lelah, letih itu terbayar. 25 September 2017 aku lulus bersyarat. Sepekan adalah target untuk revisian. Bapak kala itu masih menungguku, menyelesaikan urusanku. Seminggu lebih sehari semua beres! Awal Oktober aku mulai kehidupan baru, status yang tak jelas, sang penunggu wisuda.

Kehidupan di rumah aku habiskan masih dengan rutinitas yang tak segera aku susun ulang. Aku terlanjur untuk menjadi tak produktif. Sepekan-dua pekan setelah aku di rumah, mulai panggilan untuk tes kerja datang di kotak masuk. Dengan berat hati, Bapak mengizinkanku.

Awal November lalu, setelah beberapa kota aku sambangi untuk mencari kehidupan selanjutnya, 8 hari sebelum aku officially lulus, ternyata Bapak sudah mendahului “wisuda”ku.


Qadarullah wa maa syafa ‘ala. Baru kali itu Bapak bilang bahwa ia kesakitan. 21 tahun hidupku, ia baru bilang sakit sekali.

Masih lekat di ingatanku, Ibu mendikte Bapak yang terbaring kala itu dengan buku Zikir Pagi-Petang yang dibawa dari rumah. Perlahan Ibu baca, lalu Bapak menirukannya. Setelah teks arab usai, teks terjemah Ibu dikte-kan pula. “Kalau mbaca harus juga dengan hati,” katanya. Dan Aku? Ada rasa tak tega… aku menyeka air mata yang hampir jatuh, sembari keluar kamar peristirahatan yang aku yakin Bapak lebih nyaman disini daripada dirumah. Aku mengerti, sangat mengerti itu.

Beberapa hari kemudian, masih juga ingat ketika Ibu tak bisa membendung air matanya ketika dokter bedah berkata harus membersihkan infeksi yang ada. “Bukan, bukan amputasi,” kata dokter menenangkan. Namun air mata itu justru semakin deras.

Atau ketika mereka berdua tertawa lepas bersama. Atau ketika aku mulai kelelahan, yang tampak dari raut wajahku, ibu mulai memijit kakiku, seperti biasa. Dan dengan perlakuan yang masih sama seperti aku kecil. Iya, semua orang yang ada di sekelilingmu akan berubah dan meninggalkanmu, kecuali ibumu…

Banyak ilmu kehidupan yang mostly aku dapat diluar kelas. Pelajaran hidup yang amat sayang jika tak aku tulis ulang. Ternyata tulisan itu adalah nasehat bagi diri kita di masa depan, bahwa engkau pernah menulis ini dan kadang sebagai pengingat mu kala kau salah.

Hari-hari yang berlalu, orang-orang yang silih berganti menjenguk Bapak. Ada momen tersadarkan ketika diri ini ternyata masih merasa tinggi hati. Ketika banyak orang-orang yang aku remehkan justru memberi tamparan dalam hidupku. Sebut saja pak Agus yang dengan tenang menasehati bapak, bahwa sakit dan panas Bapak itu akan menghilangkan dosa. Tak sedikit pula yang memperhatikan kesehatan aku dan Ibuku, jangan sampai lalai, dan menyemangati kita untuk terus berdoa dan sabar. Kadang justru orang-orang yang tak terduga yang menyemangati kita pada kehidupan akhirat.

Dan terakhir, aku sungguh rindu tatkala aku dirumah, dan motor Ibu pulang, seketika Raihan memekik “Ibuuuu. Bawa apa???” dan kita berkumpul sekeluarga, siang hingga sore menjelang. Sayangnya, qadarullah, suara motor itu mungkin masih ada, namun dengan suasana yang berbeda…


Maafkan aku yang tak pandai menuliskan runtut cerita, aku hanya ingin, ketika beberapa bulan atau tahun kedepan diberi kesempatan Allah untuk hidup, aku membaca postingan ini. Dan aku telah bertekad terhadap apa yang aku tekadkan, dan berjanji untuk apa yang aku janjikan.

Iya, aku masih berjalan. Usai sudah kehidupan perkuliahan, bukan saatnya terlena sekarang. Aku masih berjalan keluar dari terowongan gelap tanpa irama hidup. Bismillah untuk hari-hari kedepan yang pasti akan jauh lebih melelahkan dari sebelumnya. Semangat!

quote

Padahal, godaan cepat atau lambat akan menghampirimu. Ia datang menguji benar tidaknya tekad yang kau utarakan di doa-doamu. Ia menentukan apakah engkau berhasil atau gagal. Sayangnya engkau memilih mengejarnya. Memastikan engkau gagal lebih cepat dalam ujian yang Allah beri. #notetoself

story

Karena tiap orang memiliki sisi yang Allah uji daripadanya untuk mengetahui tingkat keimanan masing-masing orang. Sebab itulah… seharusnya kita risau jika tak memulai dengan mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Karena bisa jadi yang terlihat sukses dipenuhi dengan banyak masalah dibelakangnya. Karena bisa jadi dibalik keunggulan seseorang, Allah mengujinya di sisi lain yang ada dalam hidupnya.

Kawan, jika hidup adalah soal unggul-mengungguli orang lain dalam perkara dunia. Cepat-cepatan untuk mencapai kepuasan dunia, niscaya tak ada bedanya kita dengan binatang yang mengutamakan hawa nafsunya, tak bisa berfikir kemudian mengimani apa saja yang seharusnya kita lakukan di dunia. Padahal semua itu sudah ada dalam guideline kita, Al Quran.

Alhamdulillah. Allah masih menyadarkanku, banyak hal yang harus mulai disyukuri setiap saatnya.

 

story

Old or New Path?

Lalu setelah semua ini, apa?

Setelah semua deadline-deadline yang sebentar lagi terlewati, lantas kamu mau kemana? Dihadapan seseorang yang baru lulus sarjana ada dua jalan yang sangat berbeda.

Old or new path?

Satu adalah jalan lebar nan jelas, namun banyak orang yang melewatinya. Ini bisa jadi keuntungan karena engkau tak perlu meraba lagi arah jalanmu. Cukup engkau ikuti apa yang pendahulu ikuti, kasih sedikit inovasi dan engkau akan melaju mulus. Bisa jadi juga menjadi persaingan. Probabilitasmu semakin kecil untuk masuk ke jalan itu.

Satu lagi adalah jalan kecil nan terhalang oleh semak belukar. Engkau harus memulai jalan baru yang mana sedikit atau bahkan tak ada orang yang melewati jalan itu. Bisa jadi engkau tersesat dan terjatuh di jalan. Pun bisa jadi engkau menemukan pola baru dan engkau bebas berlari mengelabui orang yang berjalan di seberang sana.

Terlepas dari setelah engkau melalui jalan itu engkau akan melakukan apa, itu urusan percabangan lain. Sekarang adalah apa yang ada dihadapanmu… pekerja atau mencari pekerja?

story

Rezeki Allah

AKhir-akhir ini jarang posting yah? Haha. Lagi sibuk menyelesaikan TA untuk mendapat ST. Semoga bisa aktif nulis lagi setelah ini.


Pagi ini aku bersyukur kepada Allah atas segala rezeki yang Ia berikan kepadaku. Diantara rezeki terbesar itu adalah ilmu yang mana aku bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang, mana yang prioritas, mendesak, mana yang dikesampingkan.

Tulisan ini hanyalah sebuah pengingat pada diri, bahwa Allah tidak kan pernah menelantarkan hambaNya. Bahwa dalam kitabullah, Allah memberikan seorang hamba kekayaan atau kecukupan, bukan kemiskinan. Dan pagi ini Allah kembali tampakkan kebenaran firmanNya.

Akhir-akhir ini, tepatnya dua bulan ini aku memiliki sistem keuangan yang sangat buruk. Efek mengikuti hawa nafsu dan bisikan syaithan. Tak heran, di sepuluh hari terakhir di tanganku tidak lebih dari 100ribu. Itu uang terakhir yang aku miliki di dompet ataupun rekening.

Allah tentu sangat mudah untuk memberi kita rezeki dari arah yang kita sangka maupun tidak kita sangka. Dan Ia mulai memberi rezeki dari jalan ku usaha untuk menarik dana gamis yang aku talangi di bulan sebelumnya. Dan tidak sedikit juga ide-ide kecil yang tentu tak lepas dari karunia Allah semisal bagaimana aku bisa mengambil uang di rekening sekecil mungkin, dan terlintas dibenakku adalah mengambil dengan pecahan 20ribuan. Itu membuahkan hasil setidaknya hingga awal Agustus menjelang.

Di awal Agustus, tepatnya lima hari aku tidak mengeluarkan uang sama sekali karena ada pelatihan di Purwokerto. Alhasil setelah pulang diriku serasa banyak duit karena aku berasumsi kiriman orang tua dan beasiswa yang diakumulasi dua bulan telah cair. Aku mulai menghamburkan uang dan berlangsung beberapa hari. Sampai pada satu hari aku mengecek rekeningku, dan ternyata beasiswaku pending lagi.

Aku mulai berpikir cara penghematan dan cara mendapatkan uang. Dan Allah tidak akan menelantarkan hambaNya, itu yang terlintas di setiap hariku pada akhir bulan ini. Aku lebih santai menghadapi hari-hariku di akhir bulan ini walau uang didompet dan rekening tidak melebihi 50ribu yang dapat aku cairkan. Yap, karena aku tau betul bahwa Allah selalu memberi jalan rezeki hambaNya agar cukup untuk beraktivitas dan mencari ilmu. Dan salah satu rezeki materi yang Allah karuniakan itu diberikan pada pagi hari ini melalui seuah kawan yang mungkin aku baru kenal 3 bulanan lalu.

Seusai shalat subuh, seperti biasa aku melangkah turun dari masjid dan seorang kawan memanggilku, kemudian ia memberi sebuah amplop yang ternyata itu adalah uang sisa kegiatan ramadhan dan dibagikan kepada seluruh panitia yang berkontribusi. Alhamulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Aku pulang, dan pikiranku mengawang jauh dan bertanya pada diri, apakah engkau masih pantas durhaka wahai diri kepada Rabb yang dengan penuh kasih sayangnya masih memberimu rezeki materi? Langkahku mulai gontai, betapa aku masih belum menjadi sebenar-benar hambamu ya Allah…