Kalau kita telah taubat dan ternyata masih jatuh di dosa yang sama, kalau kita telah taubat namun kita masih sulit beribadah kepada Rabb kita, berarti ada yang salah di taubat kita. Saatnya cek syarat-syarat taubat kita…

  1. Ikhlas. Benar-benar ingin diterima taubatnya oleh Allah. Bukan karena dunia, wanita atau bertaubat karena ketidakmampuan
  2. Menyesal dari perbuatan dosa. Untuk menunjukkan kebenaran, kejujuran dan kesungguhan dalam bertaubat
  3. Meninggalkan dosa yang dikerjakan. Jika dosa berupa meninggalkan ketaatan maka segera dilakukan, jika melakukan dosa maka segera ditinggalkan
  4. Bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang. Jika ada kesempatan mengulangi dosa, maka belum diterima taubatnya
  5. Mengembalikan hak-hak manusia yang didzalimi (jika dosa berhubungan dengan manusia)

–Syaikh Al Utsaimin

Tentang Riya’

Wahai diri ini, pemilik jiwa yang lemah. Sesungguhnya engkau adalah tidak lain hanyalah makhluk dengan sekumpulan kesempatan-kesempatan beramal dan beribadah. Sekalipun itu detik-detikmu berurusan dengan dunia, jika engkau niatkan beribadah kepadaNya tentulah itu termasuk ibadah. Maka janganlah memulai segala urusan dunia seisinya kecuali dengan niatan ibadah karenaNya.

Setiap orang dimudahkan untuk mendapatkan takdirnya, entah itu adalah sebuah kenikmatan, prestasi, jabatan, pencapaian, dan lain-lain. Lantas jika itu adalah ketetapanNya, bagaimana bisa engkau berbangga dan riya’ atasnya?

Jika semua harus ditampakkan ke manusia, lalu apa yang akan engkau bawa wahai jiwa kehadapanNya? Bukankah riya’ akan menjerumuskan pada ketidakikhlasan, sementara setiap amalan tidak akan diterima kecuali ada syarat ikhlas? Bukankah Rasulullah, manusia terbaik di muka bumi ini memerintahkan kita untuk merahasiakan rencana-rencana kita, karena saat kita membicarakannya seringkali hanya akan menjadi ajang hasad orang lain?

Kelak, orang yang merugi adalah orang yang merasa bahwa ia telah menguasai segalanya, namun ternyata ia tak menguasai kecuali hanya setetes air di luasnya samudera. Kelak, orang yang merugi adalah orang yang merasa bahwa ia memiliki banyak amalan, namun ternyata ia hanyalah butiran debu dihadapan RabbNya.

#SemangatKKN.

Tembalang yang sepi. Pertengahan rabiul tsani 1438H.

Bercermin Diri

al-Jaza’u min jinsil ‘amal (balasan akan sesuai dengan perbuatan) itu berlaku ke semua bidang kehidupan. Termasuk dalam mencari pasangan hidup.

Jika kita hobi melihat hal-hal yang diharamkan, kita akan diketemukan dengan orang-orang yang serupa dengan itu atau yang setimpal dengan perbuatan itu. Adakah kita merasa pantas, mengumbar pandangan dan berharap pasangan kita tak mengumbar pandangannya?

Jika kitamenghindari hal-hal yang diharamkan oleh Allah kendatipun berada di tempat paling sepi dan aman di dunia, kita juga akan diketemukan dengan orang yang menjaga kehormatanya sekalipun lingkunganya tak mendukung. (lebih…)

Lemah vs Lemah

‘Auudzubillahiminasyaithoonnirroziim, aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan atau syaitan yang terkutuk. Kenapa kita minta perlindungan sama Allah, apakah syaitan adalah sosok makhluk yang begitu kuat sehingga kita perlu untuk meminta perlindungan kepada Allah, kalau memang syaitan itu makhluk yang lemah terus kenapa kita tidak mengandalkan kekuatan diri kita saja?

Syaitan adalah makhluk yang lemah,

“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah” –QS An Nisa 76

Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah. Jadi sejatinya syaitan adalah makhluk yang lemah, terus kenapa kita perlu bantuan dari Allah untuk menghadapi makhluk yang lemah tersebut, apakah kita tidak cukup dengan kekuatan yang kita miliki sendiri, mengapa kita perlu butuh bantuan Allah, jawabannya adalah karena kita sebagai manusia juga makhluk yang lemah.

“Manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang lemah”–QS An Nisa 28

(lebih…)

5 Hukum Islam

Dalam hidup, ada 5 hukum islam yang wajib dikenakan pada setiap perbuatan: Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, Haram. Semua perilaku kita dihukumi dengan 5 hukum ini. Jadi jangan alergi.

Terus, kenapa orang-orang berbeda menyikapi hukum-hukum ini? Ada yang biasa aja, ada yang bilang dikit-dikit haram. Itu karena lingkungan kehidupan kita. Dari sini, kita bisa tinjau lingkungan hidup kita, sudah seberapa level kejernihan lingkungan kita? Apakah kita dikelilingin oleh hal-hal yang haram, makruh, mubah, sunnah atau wajib.

 

Anggapan Manusia

Sejatinya kita tak pernah benar-benar memerhatikan orang lain kan? Tapi tenanglah, tiap-tiap orang akan ada satu hari pada tiap manusia ia akan benar-benar dianggap pergerakannya, didengar perkataanya, dilihat raut mukanya, dibaca tulisannya. Satu hari yang mana orang-orang akan benar-benar menganggapmu, membaca tulisanmu adalah ketika orang itu baru saja meninggal. Ketika ia sudah tak perlu lagi dianggap, justru orang berbondong-bondong ingin menganggapnya. Makanya, kita disyariatkan untuk tak mengharap ridho manusia sedikitpun. Bahkan interaksi antarmanusia akan menyebabkan rusaknya hati kita. Karena hakikat manusia adalah mengeraskan perintah pada orang lain dan melembekkan pada diri sendiri.

Ingkar Mungkar

Tarik nafas dalam-dalam. Karena kemungkaran didepan matamu akan terus bertambah bergulirnya waktu. Ini merupakan sebuah kebenaran yang disampaikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassallam:

Tidaklah datang satu masa kecuali masa-masa berikutnya lebih buruk dari sebelumnya hingga kalian menemui Rabb kalian.”

Bukankah tanda akhir jaman dimana diantara orang-orang baik hanya bisa mengingkari dari hati-hati mereka (sedang mereka bisa mengingkari dengan lisan atau tindakan) dan menganggap wajar kemungkaran-kemungkaran yang terjadi? Dimanakah pengingkaran kita terhadap wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang bersliweran di jalan-jalan? Dimanakah pengingkaran kita terhadap dua orang yang berboncengan bukan mahramnya? Sungguh kelak akan ada zaman dimana orang-orang berzina ditengah jalan sedang orang paling baik hanya menyuruhnya untuk berzina di tepi jalan.

”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan hancur umat ini hingga kaum pria mendatangi kaum wanita, lalu dia menggaulinya di jalan. Orang yang paling baik di antara mereka saat itu berkata, ’Seandainya engkau menutupinya di belakang tembok ini.’” [Diriwayatkan oleh Abu Ya’la. Al Haitsami berkata, ’dan perawinya adalah perawi yang ash-Shahih.” Lihat Maj’mauz Zawaa-id (VII/331)]

Tetaplah ingkari teman. Karena tidaklah Allah azab suatu kaum selagi masih ada orang yang memohon ampunkan kaumnya dan mengingkari perbuatan-perbuatan dosa mereka. Semoga kita diberi kekuatan untuk menjadi satu dari mereka–penyelamat kaum dari azabNya.

Jangan Mau Kalah!

Jangan mau kalah sama orang yang sabar dan istiqomah dalam kemaksiatannya, memerjuangkan kesesesatannya, menghalang-halangi orang-orang dari jalan yang benar, mengorbankan banyak hal untuk mengikuti hawa nafsu dan syahwatnya, gigih dalam mengikuti setan dan bala tentaranya.

Jangan kalah dalam kesabaran dan ketaatan serta keistiqomahan kepada Rabb penciptamu sedang engkau berada diatas Al Qur’an dan As Sunnah. Sungguh engkau akan menempuh jalan yang lebih berat dari mereka, maka jangan pernah iri karena engkau tau bahwa tujuan akhirmu adalah surgaNya.

Istiqomah.

Keselamatan seseorang diatas shirath yang terbentang diatas api neraka bersesuaian dengan keistiqomahannya saat ia di dunia. Semakin ia istiqomah, semakin ia selamat ketika melewati jembatan shirath. —Ibn Qayim Al Jauziyyah

Istiqomah itu bukan hal yang mudah. Karena manusia dihadapkan pada 3 musuh:

  1. Godaan-godaan syaithan dan bala tentaranya yang telah bersumpah akan menghalangi manusia dari jalanNya dan akan mendatanginya dari depan, belakang, kanan, dan kiri manusia dan mengajak manusia pada kekufuran akan nikmatNya (QS. Al A’raf 16-17)
  2. Hawa nafsu menyuruh pada keburukan
  3. Syahwat mencintai maksiat-maksiat.

Ada seorang yang telah beribadah selama 60 tahun, tetapi ia dimasukkan ke neraka karena pada akhir hidupnya berbuat amalan penduduk neraka. Apakah Allah dzalim? Tidak. Mungkin selama ia beramal shaleh hatinya tidak ikhlas, mungkin ia ujub dan meremehkan maksiat.

Lalu bagaimana cara istiqomah?

  1. Ikhlas
  2. Senantiasa mempelajari Al Quran dan Hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
  3. Beramal saleh. Amalan saleh yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat dan Allah berjanji yang melakukan ini akan hidup dalam keadaan baik dan meninggal dalam keadaan baik dan bersih dari dosa seakan lahir kembal dari rahim ibunya:
    • Melangkahkan kaki ke shalat berjamaah
    • Menunggu shalat sampai shalat berikutnya di masjid
    • Menyempurnakan wudhu di saat-saat sulit

Memberantas Kebodohan Diri

Memberantas kebodohan (dalam diri) dan mengentaskan dari kefakiran ilmu mutlak butuh pengorbanan. Kadang dikau mengorbankan waktu, tenaga, pikiran. Kadang dikau berjuang dengan sedikit jang serupa sepertimu, atau bahkan kadang dikau sendiri… dan kegetiran-kegetiran lainnya. Kadang di saat jang sama, teman-temanmu merasakan indahnya bersantai di rumah, atau bercengkerama riang dibawah lineria mentari pegunungan. Dan gambaran-gambaran indah lainnya.
Namun pantang engkau menyerah karenanya. Yakinlah bahwasanya jalanmu inilah jang benar, jalan jang sama dengan pemuka-pemuka terdahulu jang telah mendahului engkau bertemu denganNya. Ingat-ingat sahaja, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i pernah bertutur bahwasanya barangsiapa yang tak pernah mengecap kehinaan dalam mencari ilmu walau hanya sebentar, akan meminum kehinaan kebodohan pada sisa hidupnya. Maka semangatlah walaupun engkau sendiri. Semangatlah walau engkau dicerca, walau engkau dikata pembeda, atau apapun tentangmu. Karena sungguh manisnya ilmu ada pada akhirnya.
Tembalang jang sepi, 26 Rabiul Awwal 1438 Hirjiyah.

Karena hati ini satu, tak mungkin ia dipakasa untuk mencapai dua tujuan sekaligus: dunia dan akhirat… Lantas jangan pernah kau melakukan sesuatu, kecuali dikau telah yakin hal itu tak merugikanmu di hadapan Allah kelak… Yakinlah ada ganti yang indah pada tiap hal yang dikau tinggalkan karena Allah… dan ingatlah selalu, selama engkau tak belajar agama, selama itu dosamu terus mengalir…

Tatkala Maksiat…

Dan dirimu, jika tak disibukkan dengan perkara baik akan disibukkan dengan perkara sia-sia. –Ibnu Qayyim Al Jauziyah

Kadang kita terjerembab pada hal yang sia-sia atau bahkan dosa. Salah satu dosa itu adalah dosa maksiat yang bisa mengantarkan pada kekafiran. Maksiat adalah pintu daripada pintu-pintu iblis.

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. (QS An Nur:3)

Tatkala manusia bermaksiat, maka hatinya semakin kelam dan keras. Saat hati condong pada maksiat, pasti ia benci dengan ketaatan dan orang-orang yang mengerjakan ketaatan.

Sungguh satu dosa/kemaksiatan yang dibiarkan, tidak ditutup menyebabkan dosa/kemaksiatan yang lainnya.

Jangan pernah aman dengan maksiat yang engkau lakukan, pandanganmu, pendengaranmu, tulisanmu, hatimu… karena dosa itu tak pernah dilupakan Allah. Dan sekecil apapun dosa itu pasti akan berdampak pada kehidupanmu. Dan sesuatu yang mengikuti dosa itu bisa lebih berat dari dosa yang kamu lakukan… (lebih…)

Dosa dan Taubat

Seseorang tak akan bisa hidup di dunia tanpa ujian. Karena hakikat kehidupan sendiri adalah ujian. Bentuk ujian Allah diantaranya adalah kekayaan (yang seharusnya disyukuri), kemiskinan (yang seharusnya bersabar karenanya), dan kesalahan (yang seharusnya bertaubat darinya).

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS Al-Anbiya’ :35)

Kenapa manusia diuji? Manusia diuji agar diketahui siapa diantara manusia yang paling baik perbuatannya.

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS Al Kahfi: 7)

Sekalipun manusia telah beriman, ia akan terus diuji selama ia hidup didunia.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS Al-`Ankabuut:2)
Namun, setiap keturunan Nabi Adam pasti berbuat salah.

 

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat” (Hadits hasan riwayat Ahmad (III/198), At Tirmidzi (no. 2499), dll)

Kalaupun ada suatu kaum yang tak berbuat salah, Allah akan gantikan ia dengan orang yang berbuat salah lalu mereka bertaubat.

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim)
Ada satu hakikat penting yang harus kita pahami, bahwasanya setiap mukmin akan terus diuji dengan perbuatan dosa–entah dosa karena tak melaksanakan perintahNya maupun tak menjauhi laranganNya–hingga ia wafat. Maka sudah selayaknya kita menghisab diri, apa dosa yang sering kita lakukan, dan berusaha menjauh darinya.

“Tidak seorangpun dari Hamba Mukmin melainkan dia memiliki dosa yang biasa dia kerjakan dari waktu ke waktu atau dosa yang dia tidak bisa melepaskannya hingga berpisah dengan dunia. Sesungguhnya seorang Mukmin diciptakan dalam kondisi selalu diuji, bertaubat dan senantiasa lupa Ketika diingatkan maka dia ingat.” [Ash Shahihah,karya Syaikh Albani no.2276 dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhuma]


Dan setelah kita mengetahui tentang dosa yang kita perbuat, hendaklah setelah kita berbuat dosa segera beristigfar dan bertaubat padaNya. Jangan pernah sekalipun kita menunda taubat. Sungguh bertaubat merupakan amalan yang mempunyai banyak keutamaan.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang-orang yang beriman” (QS. Ali ‘Imran : 133)

Maka jangan pernah berputus asa dari Allah sekalipun kita memiliki dosa seluas lautan dan setinggi langit. Sungguh syaitan pada kondisi ini akan menggoda manusia agar manusia berpikiran tidak ada ampunan baginya dari Allah. Padahal Allah maha luas permohonan maafnya. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah, wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka sendiri, Janganlah kalian putus asa terhadap rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa, sungguh Dialah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az Zumar : 53)

Setelah kita bertaubat, maka tutuplah dosa kita itu dengan amalan baik, karena niscaya amalan akan menutup dosa-dosa kita.

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.[رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik. [HR. Tirmidzi, ia telah berkata: Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih]

Dan jangan pernah sekalipun buka aib kita dihadapan manusia, atau malah berbangga atas maksiat yang kita lakukan, padahal Allah telah menutupnya (dari manusia).

اِجْتَنِبُوْا هَذِهِ القَاذُوْرَةَ الَّتِي نَهَى اللهُ عَنْهَا ، فَمَنْ أَلَمَّ فَلْيَسْتَتِرْ بِسَتْرِ اللهِ

Jauhilah dosa yang telah Allah larang. Siapa saja yang telah terlajur melakukan dosa  tersebut, maka tutuplah rapat-rapat dengan apa yang telah Allah tutupi.” (HR. Al Hakim, dari ‘Abdullah bin ‘Umar. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai dengan syarat Bukhari-Muslim.)

Terakhir, jangan pernah kita mengejek orang yang berbuat dosa, karena sungguh kita akan terkena dosa yang sama sebelum kita meninggalkan dunia. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

Tak seorang pun hamba yang merendahkan saudaranya gara-gara sebuah dosa, melainkan hamba tersebut akan diuji dengan dosa yang sama. Maka jika sampai kepadamu perihal dosa -yang dilakukan oleh seseorang- ucapkanlah dalam hatimu: “semoga Alläh mengampuni kami dan dia”.
____