Resensi: Buku Habibie Dari Pare-Pare Lewat Aachen


Sebuah buku yang menggugah niatanku untuk membaca lagi buku yang tebel-tebel. Ah bentar lagi UAS itu hanya mitos, jadi keep reading! Haha (Pernyataan ini yang sebenarnya hanya mitos haha). Aku pinjam buku setebal 456 Halaman ini di perpustakaan Undip. Emang kebaca semua? Eitt jangan salah, dalam waktu tiga hari buku ini telah selesai kubaca. Tapi gak semuanya bos. Karena faktor pengetahuan yang kurang nyampe untuk urusan advanced teknik dan urusan negara dengan segala rentetan-rentetannya.

Jadi buku ini bercerita tentang kehidupan Habibie dan keluarganya dari awal meniti perjalanan hidup sampai sukses membuat perusahaan pesawat terbang di Indonesia P.T. Nurtanio. Buku ini bukan menceritakan dalam bentuk deskripsi dari awal hingga akhir melainkan dikemas dalam bentuk artikel-artikel yang dimuat di koran nasional maupun internasional serta wawancara-wawancara eksklusif kepada Habibie.

Dari wawancara-wawancara serta artikel-artikel yang ada, sekilas aku menangkap bahwa Habibie memang pantas untuk seluruh achievement yang ia terima. Dalam suatu interview, pak Habibie ditanya waktu yang bapak punya digunakan untuk apa saja? Dan beliau menjawab membaca buku teknik dari jam delapan pagi sampai dan sebelas malam (tidak semua buku yang ia baca tentang teknik, kadang ada sastra, budaya dan lain sebagainya). Hari libur pun juga demikian. Dan waktu lainnya ia gunakan untuk ibadah serta tidur. Dan di akhir pekan ia biasa berenang. itu pun diatur jadwalnya, satu jam saja. Setelah itu selesai? Ia membaca lagi. Jadi hampir gak ada waktu buat nganggur di hidup beliau. Sungguh hebat bukan?

Selain itu, yang membuat saya baru ngeh bahwa mengapa banyak anak bangsa yang lari ke perusahaan-perusahaan luar ada di dalam buku ini. Di suatu halaman dikatakan bahwa saat Habibie ingin kembali ke Indonesia, banyak dari orang luar yang menentangnya. Dan berkata: “Banyak yang telah diberikan kepadamu, lebih baik dipergunakan untuk perkembangan ilmu manusia daripada untuk bangsamu sendiri!” Yah, aku baru ngeh tentang fenomena yang terjadi di kalangan teknisi-teknisi Indonesia selain karena faktor ekonomi yang menggiurkan dari perusahaan luar.

Keunikan lain dari beliau adalah tata cara memandang suatu problem dengan sistematis: Mengidentifikasi dan menganalisa problem: Menentukan variabel. Melihat korelasi. Evaluasi. Pendekatan solusi. Jadi saat ia menjabat sebagai menristek di era kepemimpinan Soeharto, ia selalu menerapkan metode itu di setiap problem yang ia temui.

Berikut kutipan-kutipan beliau di buku ini:

If you are not what you are, you will not get what you have to be.

Saya punya teori bahwa semua itu ditentukan oleh Tuhan.

Jadi (secara material) dari semua yang duniawi ini tidak ada yang menguntungkan bagi saya.

…karena manusia bukan hidup hanya dari makanan, materi, tapi juga dari kepuasan…

Saya tidak akan menghayal bisa menjadi seperti Habibie kelak. Tapi saya berharap esok anak saya akan mewarisi sifat dan kepemimpinan serta pemikiran dari Habibie.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s