Demi Waktu


Apa gerangan sebenarnya penyakit yang memiliki rasa ketakutan berlebih pada kesia-siaan waktu?

Agustus, 2014

Hari ini aku bangun pagi sekali. Bukan mau ngejar deadline atau apa. In progress to good habitual aja, haha. Daerah ini masih terlihat sepi dengan orang-orang yang masih menikmati paginya dengan tidur nyenyak di dekapan kampung halamannya. Jujur aku merasa hampa di sini. Nothing to do when it is really nothing to do. 

Pagi ini dan selanjutnya aku mengajak tubuhku kembali ke zona perenungan. Menyadari hidupku itu-itu aja. Aku mulai sedih ketika benak ini mendesak untuk mengingat jasa orang yang telah membawa kita ke hidup yang lebih baik. Aku mulai terenyuh ketika membawa diriku ke orangtuaku yang dengan ikhlas membawaku sampai ke sini dan terus berlanjut.

Waktu

Kadang aku berpikir tentang seseorang yang mengalami disorientasi hidup pada beberapa momen. Merasa cemas akan hidupnya yang tak sesuai rencana, memiliki rasa was-was untuk menentukan pilihan hidup kedepannya. Dan saking takutnya, memiliki rasa hati yang tidak enak untuk membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa ada kebermanfaatan.

Sering aku menatap pada diriku sendiri, apakah aku akan menjadi seperti itu? Atau aku yang sekarang memang seperti itu? Ah entahlah. Lingkungan membuat aku terduduk dan terpojok untuk mengikuti inersia lingkungan tersebut. Kata ilmuwan, lingkungan berperan >90% dari kehidupan, sisanya adalah kemauan kita. Nah loh, mati gaya dimakan lingkungan kan?

Life-Cycle

Aku selalu mengungkapkan ini kepada benakku sendiri bahwa hidup adalah hidup. Kata ustadz, hidup di dunia, kalau kita menyadari betul hakikatnya, itu gak lebih dari sekejap mata, jadi hiduplah untuk mati. Yeah. Jadi, kita hidup, katakanlah:

  • 0-13 masa kanak-kanak (TK, SD)
  • 13-18 masa pencarian jatidiri (SMP, SMA)
  • 18-22 masa mengukuhan jatidiri (Kuliah)
  • > 22 masa dewasa (Cari kerja, Nikah)
  • > 30an masa kejayaan (Sukses, Punya keturunan)
  • > 50an masa tua…

Heeem, aku mengkhawatirkan diriku tentang hal yang tidak bisa aku beri ke orang atau apapun yang aku ‘tumpangi‘. Aku takut kontribusiku yang dipertanyakan di masa tua atau bahkan setelah itu.

Kontribusi

Anganku melambung ke kata kontribusi. Apa sih kontribusi kita ke semua orang yang bisa terus membuat kita bertahan? Apa sih kontribusi kita ke tempat-tempat yang menjadikan kita manusia yang lebih dihargai? Apa???

Secara tidak sadar kita akan berkontribusi minimal satu kali dalam hidup. Yaitu saat kita bekerja. Yeah, tapi cukupkah sampai situ? Benakku menolak mentah-mentah pernyataan itu. Ah, aku ingin ini-itu sebenarnya, tapi memang, sekali lagi lingkungan membuat aku lengket ke situasi tak produktif ini…

Kontribusi adalah kemutlakan dalam hidup. Karena dengan kontribusi lah kita bisa menebar manfaat. Dengan kontribusi lah kita bisa meneruskan rantai kebaikan ke orang lain. Selama kita tak berlari menembus inersia lingkungan yang tak mendukung ini, kita akan tetap gini aja, berkontribusi satu kali dalam hidup. Ah tidak…

How?

Kembali lagi ke pertanyaan awal, jika memang benar begitu, apa nama penyakit ini? Ah entahlah, aku kadang merasa kasihan terhadap tubuh-tubuh yang tak memiliki orientasi, termasuk juga aku. Namun where I can start from? Harus dari mana aku memulai memperbaiki ini semua…?

Aku cukup mengatakan tubuh ini egois hari ini. Aku cukup menuduh tubuh ini yang hanya bisa berkata-kata tanpa tindakan konkrit hari ini dan sebelumnya. Aku cukup memvonis akulah yang mengidap penyakit itu sekarang, dan aku bahkan tak tau apa gerangan yang aku lakukan sekarang adalah wasting time atau tidak.

Sepi…

Sampai aku menulis inipun rasanya benak ini masih sesak akan bayang-bayang gelap itu. Ah sudahlah, sebenarnya aku hanya ingin engkau ada di sampingku sekarang, keluargaku. I still miss you all. Rasa-rasanya berat menjalani kesepian disini, tapi rindu ini akan ku nyalakan, ku jadikan api hidup di keheningan pagi ini, akan kujadikan pula payung di panas siang ini. Akan kujadikan bahan bakar untuk menyalakan jiwa kontribusi ini. Love you, mom, dad, my family…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s