Pendidikan dan Latihan Dasar Alam Bebas


Pendidikan merupakan sesuatu yang vital dalam kehidupan. Menurutku, Pendidikan yang paling efektif adalah pendidikan yang dipraktekkan secara langsung, tanpa menelan teori-teori terus menerus. Pendidikan di alam bebas termasuk dalam pendidikan yang langsung dipraktekkan sehingga menurutku sangat efektif, apalagi jika dibarengi dengan ketertiban dan kedisiplinan. Dan ucapkan selamat datang kepada Pendidikan dan Latihan Dasar Anggota Muda.

Ya, itulah salah satu kegiatan ekskulku, Pecinta Alam. Pendidikan dan Latihan yang dilandasi oleh pendekatan Respresif. Bukan hanya fisik yang diuji, mental juga diuji pada pendidikan ala respresif ini.

“Dalam kegelapan malam, dinginnya malam, disitulah mental kita diuji untuk terus melaju, berpacu dengan kabut yang siap menerpa, dengan fokus,fokus,fokus dan fokus untuk respek kepada saudara-saudara kita, didepan atau dibelakang kita.”

Kami sudah mengalaminya, dingin itu, kegelapan itu dan kebersamaan itu. Tepatnya Bulan Desember tahun 2010. Tiga Hari yang penuh tantangan. tiga hari yang apa-adanya, tiga hari yang seharusnya aku berada pada hangatnya selimut dan kasur yang empuk, namun semua itu hanya menjadi mimpi di tiga hari itu, tiga hari yang penuh dengan mental yang sering bereaksi dengan fisik kita, tiga hari kebersamaan kami, tiga hari yang super dalam hidupku!

Dimulai dari sekolah, kami berjalan dengan tempo cepat menyatu dengan dinginnya pagi yang setia mendampingi. Pukul setengah empat pagi, kami mulai perjalanan panjang ini dari Sekolah kami yang bisa dibilang jauh dari kaki gunung Slamet. Tas-tas besar yang kita bawa seakan tidak bersahabat saat itu. Mungkin karena kami masih pemula dalam hal packing tas carrier. Kami hanya butuh waktu sepuluh menit untuk packing ulang dan streching dan dari sepuluh menit pemanasan, kami berjalan kurang lebih sembilan belas jam. Memang tidak manusiawi, bayangkan saja, naik gunung 3000 meteran rata-rata membutuhkan waktu kurang dari 15 jam untuk naik dan turun. Tapi dibalik ketidakmanusiawian itu, banyak makna yang jarang kita bisa ambil dari kehidupan rutinitas ini. Salah satunya ‘kalahkan batas batas diri kalian!’. Dimana kami harus bisa mengalahkan fikiran kita sendiri yang menganggap ‘tidak bisa’ dan mempertegas bahwa fisik itu bukan segalanya dalam suatu kehidupan dan perjalanan yang sulit, namun semangat dan mental itu vital dalam sebuah tantangan kehidupan. ‘Don’t burn anything expect passion’. Kita dituntut untuk mengalahkan apa yang sewajarnya kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah senjata yang paling tajam untuk menghadapi kejamnya hidup menurutku…

Wow, entah sekarang aku sanggup atau tidak berjalan selama itu. Kabut malam mulai menyapa. Sudah cukup lama kia bergelut dengan hujan sore itu yang mulai reda. Kita duduk melingkar di pintu masuk ‘jalan putus asa’. Kita semua menunggu magrib selesai dan siap tidak siap untuk jalan lagi. Air hujan saat itu terasa biasa saja aku minum, Malam mulai mendatangkan selimut dingin, dan saat itulah aku mulai melangkahkan kaki bersama saudara-sauradaku. Orang-orang dari ketertiban yang memaksa kita untuk tetap fokus,fokus dan fokus. konsentrasi dan jangan ada yang melamun malam itu.

Satu persatu, fisik kita mulai melemah. banyak dari kita yang ‘berjatuhan’ setelah melewati ‘jalan putus asa’ itu. Tantangan terberat sudah dilalui. Memang, trek saat itu sangat ekstrim dengan kiri-kanan jurang dan tanjakan yang tak pernah putus. Setelah beberapa jam kita menyusuri trek setelah ‘jalan putus asa’ kita istirahat dan makan dengan porsi seadanya, yaitu satu sloki air mineral dan bukan nasi yang kita makan, namun beras yang sedikit dipanaskan yang kita makan. Mau tidak mau harus kita habiskan, jatuh satu tetes air berarti kita harus membayarnya dengan satu porsi push up. Nasi yang jatuh ditanah, harus kita makan lagi. Begitu seterusnya untuk tiga kali makan. Kita membuat bivak malam itu dengan penuh tekanan fisik yang sudah sangat lemah dan tekanan mental yang terus terkikis oleh gentakan-gentakan ketertiban. Hari ini berakhir, siapkan fisik untuk esok.

Hari kedua mengucapkan selamat datang yang disampaikan oleh embun dan kabut pagi. Bekal makanan kita semua disita dan hanya tersisa air minum dan beras. Pagi ini, kita mencari apa saja yang bisa kita manfaatkan untuk SURVIVAL. Setengah jam yang harus dioptimalkan untuk mendapatkan beberapa suap (seharusnya) nasi dan beberapa lauk dari apa yang kita dapat untuk survival tadi. Hari kedua memang lebih ringan dari hari pertama. kita lebih sering mempraktekkan apa yang kita dapat, Survival,Navigasi darat, Search and rescue, rapling, dan nuansa ular. nilah Pendidikan Dasar yang sesungguhnya.

‘bangun, bangun cepat bereskan bivak kalian, packing ulang, saya kasih waktu lima menit!’ teriakan-teriakan ketertiban di pagi buta itu membangunkan kami. Hari itu kami harus membayar semua hutang-hutang porsi kita. Antara lain lima porsi push up. ‘dua puluh ikut saya’ nomorku dipanggil, aku bergegas berdiri dan mengikuti pelatih. Aku mulai rapling, dan menyusuri sungai yang arusnya masih dibatasan wajar. Aku menyusuri sungai dan sampailah pada danau kecil, aku harus berenang sampai tepi air terjun itu. Setelah itu, aku menaiki air terjun itu. memang berat saat itu, tapi tidak saat aku sedikit berjalan kedepan dan melihat ada bendera merah putih dan bendera ‘panji’. Aku mendekat dan aku dilantik sebagai Anggota Muda pecinta alam.

WOW, semua kelelahanku terbayar sudah, aku sangat puas saat itu. Kurasa, inilah kepuasan hidup. Setelah berhari-hari bergelut dengan diri kita sendiri, emosi kita, ego kita, dan pada akhirnya kita bisa merasakan timbal balik yang berupa Penghargaan, Penghargaan yang menurutku tak ternilai harganya. Sungguh hidup yang sangat indah saat itu, saat aku kembali mendapatkan slayer kebanggan yang bertuliskan PPA GASDA SMA N 1 Purbalingga. Semua kenangan-kenangan itu, sangat mengubah mindset-ku. Tak terbayang aku bisa melakukan itu semua. Aku akan selalu ingat pesan-pesan itu, ketertiban.

1. Cepat cepat Merapat merapat!
Satu kalimat yang cukup sering dikatakan ketertiban dan komandan perjalanan. Apa sih gunanya dalam rutinitas kita? hmm… kalo kita bisa menerjemahkan lebih dalam, kira-kira begini “dalam hidup sebaiknya kita selalu bergandengan dengan orang lain, karena sesungguhnya hidup ini diciptakan untuk bersatu, bergabung tanpa pandang bulu”

2. Fokus, fokus, fokus dan konsentrasi
Sangat wajar jika kita dalam tekanan fisik dan mental, kita tidak bisa berpikir dengan matang, namun jika kita fokus pada satu hal saja, bukan tidak mungkin jika kita bisa berpikir secara bertahap dan akhirnya kita bisa mendapatkan hasil pikiran dengan matang.

3. Kalahkan batas kemampuan kalian!
Tak ada yang harus kita kalahkan didalam kehidupan ini kecuali diri kita sendiri, Emosi kita sendiri, dan ego kita sendiri. Jika kita bisa mengalahkan batas batas kemampuan kita, tak ada yang tak mungkin. Percaya itu!

4. Siap kapan saja, dimana saja dalam situasi apapun

5. Perhatikan saudaramu, respek terhadap sesama itu penting

6. Cepat, cepat, cepat! bukan berarti gugup atau gegabah

Masih banyak sebenarnya kata-kata yang menggugah semangat dari Orang – orang Ketertiban itu. Setidaknya itulah bagian kecil apa yang aku dapat dari pendidikan di alam bebas. Jangan salah, biasanya pendidikan inilah yang benar-benar masuk ke dalam mindset kita. Yang kemungkinan besar selalu kita praktekkan sehari – hari.

HELLO GENK ?? GANESHA MUDA !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s