Sindoro Diam, Sindoro Mencekam


Dari satu malam aku membawa cerita. Dalam sebuah perjalanan empat manusia ke tempat yang katanya luar biasa nan indah. Ini bukan kali pertamaku mencoba, tapi ini yang paling mengena untukku…. Malam itu hanya ada kami berempat di dataran puncak Gunung Sindoro. Seluas itu. Setinggi itu. Hanya ada kami. Panas terik tadi siang rupanya belum puas menghajar tubuh kami. Mereka bertransformasi menjadi malam gerimis disertai petir yang sesekali mengagetkan kami semua. Gelap malam di gunung itu menjadi saksi bisu ketakutan kami.

Malam itu tak terlupakan bagi kami. Di guratan malam yang penuh dengan tetesan hujan yang semakin deras. Ditambah dengan petir yang sesekali jatuh di sekitar gunung. Dan angin yang sesekali menggoyangkan dome kami. Bahkan kami kedatangan tamu Sulfur yang sesekali menyelinap di celah-celah tenda.

Pukul sembilan waktu itu. Kami dalam posisi sudah siap tidur setelah selesai makan. Banyak barang yang masih di luar tapi kami biarkan. Kami sudah nyaman dengan posisi seperti ini dan tentu tak ada yang berani membuka seincipun tenda kami. Beralaskan tenda, berselimutkan dua sleeping bag untuk empat orang. Teman… selama aku naik gunung, baru kali ini aku setakut ini, batinku.

“Teman, jika ada yang menghirup sulfur lagi, kita siap-siap bongkar tenda, pindah ke tempat yang lebih aman.” kataku. Semua diam. Mereka masih terjaga, mereka mengerti namun memilih untuk tak bicara. Oke aku lanjutkan doaku padaNya. Yeah, aku berdoa betul-betul malam itu. “Ya Allah, lindungilah kami atas semua yang engkau ciptakan. Jaga kami, jangan jadikan kami sia-sia di tanahmu yang indah ini ya Allah. Maafkan kami jika kami pernah berbuat salah selama perjalanan ini” Begitu seterusnya.

Aku mulai terlelap. Aku pasrah apapun yang terjadi. Aku sudah serahkan kepadaNya. “Sulfur, bersahabatlah dengan kami malam ini saja” batinku. Aku memejamkan mata. Kami terlelap di tengah dentuman petir yang derasnya hujan puncak gunung. Dingin yang sebenarnya kami rasa bahkan tak terasa karena terkalahkan oleh sulfur yang beberapa kali telah tercium di hidung kami. Bismillah. Kami terlelap malam itu dengan penuh doa dan kecemasan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s