Karena Cinta


Karena cinta semua berawal dan berakhir. Manusia mengawali hidup dengan keadaan tangan menggenggam, berambisi untuk memiliki dan mencintai dunia seisinya. Sayangnya ia selalu berakhir dengan keadaan tangan terbuka, ia takkan mampu menggenggam dunia seisinya, pun mencintainya.

Cinta memiliki garis tegas bahwa ialah salah satu sumber terbesar manusia untuk terus bergerak dan semangat memerjuangkan sesuatu. Cintalah yang menjadi alasan logis kenapa seseorang mampu bertahan pada situasi yang tak mungkin. Ialah yang menjadi tumpuan sehingga mampu melompati bayang batas kemampuan manusia pada umumnya.

Karena cinta semua hal bergerak. Ia sudah seharusnya bukan terdefinisi sebagai rasa yang terjadi antara dua insan saja, sejatinya lebih luas dari sekadar itu. Cinta sahabatmu, cinta mata kuliah yang kau ambil, cinta praktikum yang sedang kau jalani, dan masih banyak lagi.

Karena cinta yang membawa diri perlahan ke arah keikhlasan untuk menyerahkan waktu, pikiran, dan tenaga kita kepada yang kita cintai. Ia yang memberi dorongan kuat ke diri ini untuk total dalam suatu pekerjaan. Ia yang memerjuangkan sepenuhnya tentang apapun yang terjadi dengan hal yang ia cintai.

Di titik ini, aku mulai menyadari untuk mencintai hal-hal yang ada di dekatku. Membuatnya lebih melankolis. Menjadikannya seolah hal terakhir yang aku cintai pada waktu tertentu. Karena dengan cinta yang benarlah semua menjadi baik.

CINTA ALLAH

Mari kita merenung sejenak pagi ini. Sudahkah kita benar-benar cinta kepada Allah? Atau kita hanya sekadar melakukan yang diperintahNya tanpa mengenal siapa pencipta kita? Ingatlah bahwa dibalik semua jalan kehidupan kita ada Rabb yang benar-benar tulus mencintai kita sebagai mahluk dengan bentuk yang paling sempurna. Rabb yang selalu terjaga mengurus manusia. Buktinya Ia telah memberi kita pilihan hidup kita sendiri, ia memberi kita pikiran dan kecerdasan untuk memanajemen jalan hidup kita sendiri. Tapi, sudahkah kita mencintai balik Rabb kita yang begitu sayang terhadap kita? Atau justru kita masih mengagung-agungkan cinta kita terhadap sesama manusia? Atau bahkan cinta di dunia ini melebihi cinta kita terhadap Allah? Naudzubillah.

Ibarat kita membeli roti, kemudian kita mencicipinya dan kita cinta pada roti tersebut, seiring waktu roti itu tentu akan habis dan tak tersisa lagi. Lain halnya saat kita mencintai si pembuat roti. Kita bisa menikmati roti itu sepanjang yang kita mau karena kita memiliki sumber dari apa yang kita cintai. Tahukah sobat bahwa Allah menyimpan banyak sekali hadiah bagi hambaNya yang mau dan mampu mencintaiNya lebih dari apapun di kehidupan? Tapi apa yang kita lakukan sampai saat ini? Masih berkutat pada dunia dan menyebelahmatakan penyakit wahn—cinta dunia.

Adakah di hari-hari kita dipenuhi rasa nyaman karena cinta kita terhadapNya? Adakah di hari-hari kita telah bercengkrama, mengobrol dan berkeluh kesah denganNya? Maukah kita menyisihkan waktu tidur kita untuk sekadar berdzikir, untuk lebih dekat dengan Rabb yang kau sayang? Sudahkah kita benar-benar mencintai sang pencipta kita sobat?

Jika belum, mari sadari, dunia bukanlah pelabuhan akhir kita. Dunia hanyalah persinggahan sementara untuk menghadapi samudra luas yang membentang di depan. Kuatkan hatimu sobat, jangan lelah panjatkan istighfar kepadaNya, jangan kalahkan cinta kepada Rabbmu dengan cinta yang dana di dunia ini. Semoga kita menjadi insan yang lebih baik dari hari ke hari hingga tiba waktu pelayaran panjang kita dimulai. Aamiin.

sumber: khotbah masjid At-Taqwa, Bulusan, Tembalang, Semarang Jum'at 24 April 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s