Dari Pinggiran Djakarta


Hari terakhir di Jakarta. 20/1-23/2 bukanlah waktu yang sebentar, pun bukan waktu yang lama. Tapi benar, satu bulan rasanya tak cukup untuk menimba ilmu di salah satu pabrik pinggiran Jakarta ini. Lain waktu barangkališŸ™‚. Sediki banyak ilmu dan pelajaran hidup yang aku dapat dari sini. Di siang terik pinggiran djakarta ini, biarkan aku bercerita tentang sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.


Jatinegara menyambut kami dengan hangat dini hari itu. Bergegas kami sholat dan bersiap meneruskan perjalanan ke tempat singgah kami selama satu bulan kedepan. Rupanya Jakarta masih menahan kantuknya. Pukul lima pagi jalanan terlihat sudah padat merayap menyuguhkan sarapan asap pekat. Setelah beberes di tempat singgah, bergegas kami menuju tempat Kerja Praktik kami, PT. MESINDO TEKNINESIA. Perjalanan sepuluh menit kami menyusuri jalanan Jakarta nyatanya butuh adaptasi. Mewajarkan adanya sawah berhektar-hektar yang tak lagi subur dengan air berwarna hitam kelam. Mengiyakan gelap setiap sungai yang kami lewati. Terpaksa menghirup asap-asap kendaraan yang menemani kami.Ā Di hari-hari awal ini kami memilih berpergian, melihat lebih luas Jakarta. Belajar dari Jakarta.

I Realized Something

Aku belajar karakter banyak orang disini. Beberapa kali aku membatin betapa melelahkan dunia ini. Jika saja kita percaya bahwa ada hal-hal yang telah diatur oleh Allah, tertulis jelas bahkan sebelum kita lahir, apakah kita masih tak punya malu untuk berteriak, emosi, dan egois kepada sesama pencari rezeki? Memang perlu belajar lapang dada bahwa rezeki, jodoh dan kematian telah ditentukan. Tugas kita adalah berusaha sepenuhnya.

Batin ini menengadah. Rupanya aku sedang belajar dari kesalahan-kesalahan disini.Ā Belajar dari orang-orang dengan kepribadian keras, dari orang-orang dengan kebiasaan yang barangkali keliru untuk dijadikanĀ rutinitas, dari orang-orang yang kadang pragmatis dan tak peduli, dari orang yang sering menomorduakan membaca dan mendahulukan bertanya, dari orang yang menyembunyikan keberanian karena takut akan konsekuensi, mewajarkan dan mendiamkan kesalahan dan mencari aman, dan dari manusia-manusia cerdas setinggi langit tanpa praktik, serta dari manusia-manusia pengadu seperti aku.

***

Jakarta menyambut pagi dengan hujan. Lain hari aku sengaja berpergian sendiri mengunjungi saudaraku di selatan. Lampu-lampu kota masih setia menemani jalanan yang kedinginan. Seketika hening itu terpecah oleh KRL yang lewat. Terlihat seorang pria duduk terkantuk diujung gerbong. Kaca KRL yang terlaminasi menggelapkan pandanganku ke anak-anak yang bermain dengan gerimis di “perumahan sederhana” dekat stasiun tanah abang. Bangunan semi permanen sepanjang rel sekakan memberi isyarat kepadaku. Masinis masih terus menggerakkan gerbong-gerbong panjang menuju Jatinegara walau hanya ada beberapa penumpang pagi itu.

Ada yang Salah

Aku banyak merasa iba dengan sebagian lainnya yang menghidupi keluarga mereka dengan segala risiko setiap berangkat dan pulang kerja, beradu di jalanan yang penuh dengan kendaraan-kendaraan konvensional. Rela sarapan asap kendaraan, merebahkan diri dalam sujud dzuhur yang singkat, menghabiskan sisa tenaga hingga sore atau bahkan malam, pulang dengan sambutan macet panjang. Saat petang menjelang, sang anak kadang merengek kepada Ibu untuk menghubungi Ayahnya. Sesaat sang Ibu iba, dan menyerahkan telepon genggamnya yang sedari tadi discrollnya.

“Yah, Ayah pulang kapan?”

“Bentar ya dik, Ayah pulang jam 9 nanti kok,”

“Adik makan dulu aja sama mamah.”

Sedih.

Memang, ada yang salah di sini. Tidakkah kau teriris saat didepan kaca KRLmu melihat rumah-rumah semi permanen, atau bahkan hanya terpal dan kayu yang hanya cukup untuk menjadi ruang tidur satu keluarga? Ayah-ayah bergegas memacu kendaraan mereka, keluar dari perumahan, mencari sesuap nasi untuk keluarganya: Berangkat pagiā€”pulang sore, bahkan malam. Sang ibu berteriak memecah keheningan memanggil sang anak untuk makan pagi dan mandi. Air? Entahlah. Kembali aku berpikir, apa yang bisa membuat mereka bertahan?

***

Pukul tiga tepat pak tua mulai mengetok setiap tiang listrik di kompleks perumahan nusantara. Seorang pria meraba sajadah di gelapnya ruangan untuk solat malam. Setengah jam sebelum subuh speaker masjid menggema,Ā mengingatkan warga untuk bangun dan meraih kemenangan dengan sholat. Lampu jalan didepan tempat singgah kami masih menyinari dengan sisa tenaganya.Ā Jakarta begitu hening saat itu.

Jalan Hidup

“Oh, jadi rasanya kerja gini ya?”

Ada pepatah good work is wok that can improve your life and knowledge. Kadang dalam bekerja praktik aku selalu berpikir, apa sebenarnya yang bisa aku kembangkan disini? Batinku mengeja, pekerjaan apa nantinya yang bisa membuatku berkembang? Kadang hari-hari disini mengejaku untuk menandai setiap hari yang aku lewati. Tanggalan itu seakan berkata, disini seharusnya kamu mendapat titik balik itu, bekerja atau wirausaha. Dimana kita bisa belajar untuk berkembang dan memotivasi diri? Apakah dengan bekerja yang menghabiskan 8 jam tiap hari, kamu akan dibayar sepadan? atau mendapat keuntungan maksimal dari menawarkan solusi dari masalah-masalah manusia? Maka jika kau tak berusaha untuk mencapai keinginanmu sendiri, kamu akan dibayar untuk membantu orang lain mencapai impiannya.

Terlepas dari betapa gitu banget ngerja itu, aku jadi tau kerja keras seorang ayah dan ibu yang punya job desk masing-masing. Maafkan aku bu, pak belum bisa menjadi anak yang baik dan membahagiakan kalian. Maaf aku yang secara tak langsung tak menghargai kerja keras kalian dengan main-main dan tak serius dalam belajar…

Aku sesaat kemudian menyadari, waktu berlalu, setiap manusia dengan berjalannya masa akan punya tanggungjawabnya masing-masing, setiap manusia akan memiliki tantangannya masing-masing. Saat kecil, kita berhadapan dengan segala imajinasi yang kadang terhempas oleh rasional manusia. Saat remaja kita bergelut dengan perasaan tentang hal-hal persahabatan. Beranjak dewasa kita bertahan untuk merasionalkan cinta. Nanti pun kita akan memiliki tantangannya sendiri. Ya, memang jalan hidup manusia begini ā€˜kan?

***

Sepiku adalah ramai kendaraan di seberang jalan. Hujan deras semalam mengangkat mimpiku, bercerita dengan hikmat tentang kehidupan. Mata-mata di sepanjang jalan kami ke tempat kerja praktik masih terus melihat dengan tatapan heran, bahkan kucing pun ikut memicingkan mata ke kami.

Jakarta Memang Begini

Angkot masih melaju dengan kecepatan penuh. Sayup-sayup angin dan rintik hujan menemani kami menuju satu daerah yang cukup jauh untuk dicapai dari jalur busway atau KRL, maklum pinggiran Jakarta. Entah berapa kali aku berkeliling dengan transportasi umum, tetap saja ada hal yang bagiku menarik untuk diperhatikan. Entah, aku hanya suka, atau sedikit mencaci, atau sedikit kagum dengan manusia-manusia Jakarta. Tentang perjuangannya, tentang keunikannya, tentang pola pikirnya. Tentang semuanya.

Jakarta memang selalu begini. Aku mungkin tak sanggup lagi melihat kehidupan di perumahan dekat stasiun tanah abang, wanita-wanita karir yang berdesakan di KRL, ayah-ayah yang berjuang pagi hingga malam untuk sesuap nasi untuk keluarganya. Sudahlah, Jakarta memang selalu begini. Merindumu kelak barangkali menjadi renungan tersendiri. Entah, seolah diri ini memiliki tanggungjawab lebih sebagai pemuda tentang nasib-nasib manusia dipinggiran stasiun tanah abang.

***

Di ujung peron Stasiun Senen aku menyadari telah mencintai banyak hal disini. Mencintai tiap gerbong yang lewat peron stasiun, mencintai lajur busway, mencintai jalanan sawah yang tiap hari kami lewati.

Which Way Will You Choose?

Kalau kamu diberi kesempatan pergi selama beberapa waktu yang cukup lama, kamu mau ke tempat yang lebih baik dan nyaman dari kehidupanmu saat ini, atau tempat yang sedikit lebih berjuang dari kehidupanmu saat ini? Aku pribadi memilih opsi kedua. Di setiap jalan yang aku lalui di Jakarta, aku selalu mersyukuri tempat tinggalku sebelumnya, mensyukuri hidup yang kita jalani. Dikehidupan yang baru tersebut juga banyak pelajaran kehidupan yang bisa aku ambil. Tentang expand the comfort zone, mengurangi syarat hidup, menambah pengalaman, pun belajar empati dan simpati kehidupan orang lain.

***

Sudahkah kita gunakan sebaik-baiknya waktu? Waktu. Disinilah kunci segala decak kagum penonton saat seorang pemain bola mencetak gol atau seorang ex-preman yang menjadi imam masjid. Waktu adalah pencapaian. Ia membentuk suatu kekontinuan perilaku manusia yang biasa disebut habit. Maka, sudahkah kita melakukan habit yang baik? Memaknai waktu, sesungguhnya kesadaran dan titik balik ada padanya. Maka pula, kuatkan kami ya rabb untuk menggunakan waktu ini sebaik-baiknya. Jadikan setiap detik yang kami jalani menjadi waktu yang berkah.

Kuatkan Mereka Ya Allah

Dan untuk semua usaha kami, seluruh peluh keringat kami, seluruh waktu kami, kuatkanlah kami, pun kuatkan mereka yang berjuang di jalanMu. Cukupkan rezeki hamba-hambaMu yang selalu mengingatMu di setiap nafasnya.Ā Masih banyak orang yang memiliki beban lebih berat dariku. Disaat sebagian manusia nyaman beribadah dengan segala kenikmatan, ada orang-orang yang beribadah dengan segala keterbatasan. Maafkan kami yang masih kufur jauh dari rasa syukur. Maafkan kami yang masih sombong dan ‘ujub untuk segala yang ada pada diri. Maafkan kami yang masih terlalu banyak berprasangka buruk kepada makhluk-makhlukMu. Maafkan kami yang bahkan lebih sering menyebarkan ilmu untuk dilihat daripada mengamalkannya. Maafkan kami yang masih berdoa kepadamu soal dunia, padahal masa depan terindah manusia adalah ketika Engkau ridho kepada kami, lalu kamis selamat dari nerakaNya dan mendapat surgaNya sehingga bisa melihat wajahMu. Maafkan kami ya Allah…

***

Thereā€™s fall of rain on busĀ glass, on train glass. There’s a problem that only solved by get lost. Thereā€™s learn that only get on difficult situations. Because rain canā€™t show their beautification without evaporationā€”effort up to sky. Thereā€™s a lot feeling that I canā€™t write today, maybe someday.

Lihat juga ilmu yang kami dapat disini!Ā http://energinesia.blogspot.co.id/2016/01/kerja-praktik-pt-mesindo-tekninesia.html

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s