Subuh di Pogung Dalangan


Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. QS Al Baqarah:153

Sayup-sayup adzan subuh terdengar, dengan usaha sekuat tenaga membuang kantuk, kami segera bangun. Iya, subuh itu aku di Pogung Dalangan, Yogyakarta bersama 3 orang teman SMAku. Tiga jam sebelum adzan berkumandang, ketiga temanku telah lelap dalam terangnya cahaya kamar yang belum dimatikan. Iya, hanya aku yang terjaga malam itu, masih berkutat dengan alat yang biasa disebut raket nyamuk, yang kumodifikasi sedemikian rupa dengan arduino dan solar cell.

Lima belas menit sebelum subuh berkumandang, mereka semua terbangun dengan teriakan seseorang yang girang. Iya, alat yang aku oprek-oprek semalaman penuh akhirnya jadi. Selepas itu, aku selalu teringat ayat yang mengindahkan sifat sabar dalam berusaha, Al-baqarah:153. Allah tak pernah mendustai apa yang Dia katakan. Maka, setelah subuh itu, semoga ayat ini terus terngiang di diriku, karena usaha tak akan pernah sempurna tanpa sabar dan shalat.


Mentari pagi itu menyingsing, saatnya memberikan senyum. Logika mode on. Berbicara tentang merangkai Indonesia dari segi riset, rasa-rasanya aku sangat optimis. Lihat saja, asumsikan setiap bulan yang terdapat empat weekend pasti minimal ada satu event riset (entah LKTI, LKTM, essay, paper, karya cipta, rekayasa teknologi, dll) yang diadakan oleh suatu lembaga pendidikan dan penalaran. Mari berhitung. Saat satu bulan terdapat empat event, dan ada dua bulan efektif kuliah (diluar libur mahasiswa, libur nasional, UTS dan UAS) untuk menyelenggarakan lomba, dan terdapat minimal sepuluh finalis dari hasil seleksi yang tentunya sudah terpilih dari puluhan bahkan ratusan kompetitor lain, maka:

2 bulan x 4 weekend x 10 finalis = 80 karya

Ada 80 karya tiap tahun yang siap dikembangkan, dikarantina dan dibimbing untuk menghidupkan Indonesia jauh lebih baik lagi. Namun, kenyataanya? Riset seolah menjadi konsumsi lab saja tanpa mengarah ke tujuan hakiki sebuah riset, yaitu komersialisasi (dari sudut pandang kerakyatan) dan technopreneur (dari sudut pandang ekonomi). Dua tujuan ini nyatanya tiap tahun tak pernah bertahan sebanyak karya minimal yang dihasilkan oleh finalis-finalis hebat itu.

Ada yang salah disini. Persepsi? Benar. Persepsi masyakarat yang cenderung menolak hal baru untuk diterapkan. Namun menurutku bukan hanya dia yang patut dituntut atas ketidaksinkronan sistem ini. Banyak elemen yang seharusnya berperan dalam memajukan dan mendorong komersialisasi riset-riset pemuda Indonesia. Bukan justru menggandeng produk raksasa asing. Yaiyalah kita kalah bersaing karena hampir dukungan negara hanya sebatas melakukan riset itu sendiri. Sementara tahap komesialisasi (pengurusan paten, HKI, standarisasi SNI, pengujian lapangan, dll) dan brainstorming ke masyarakat sangat minim dukungan. Maka, sungguh tak heran saat anak putra petir yang katanya hampir dihukum karena uji emisi yang tak layak dari mobil yang ia konsepkan bersama tim kupu-kupu malam beberapa bulan lalu.

Kalimat-kalimat diatas bukanlah sebuah kalimat tuntutan, namun data mengatakan demikian. Karena seluruh aspek ada hak dan kewajiban masing-masing, sudah seharusnya kita melakukan dengan totalitas bukan?🙂


Tiga hari dua malamku di Jogja barangkali dirasakan orang lain dengan buang-buang duit. Dua hari penuh panitia menyediakan hotel, sementara aku memilih kamar kos sederhana temanku untuk singgah mengistirahatkan badan ini. Sebagian uang yang seharusnya digunakan untuk fieldtrip, aku justru tak mengikutinya. Namun aku mendapat hal yang mungkin tak ternilai, tentang kesederhanan. Aku banyak hal sederhana tentang kesederhanaan, terutama dengan teman-teman SMAku malam itu. Menghabiskan weekend bersama dengan teman lama, menjadikan malam itu penuh dengan cerita, menggali opini-opini yang sebelumnya tak pernah terungkap. Iya, sesederhana itu.

Setiap langkah membawa kita ke jalan, setiap perjalanan membawa cerita. Kadang ada rasa down saat melihat orang-orang beraksi sungguh luar biasa di depan panggung, namun menurutku panggung sesungguhnya bukan disitu. Maka sekarang saatnya kembali, saatnya rehat. Dunia yang penuh dengan peluh dan keringat ini mari kita singkirkan lagi. Ada hal-hal yang lebih patut kita bicarakan dan lakukan serta sebarkan daripada hari-hari yang penuh kelelahan di waktu siang yang sebentar ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s