Ada yang Lebih Penting…


Terik siang ini membakar tubuh kami berdua. Lekas aku menarik motorku melaju di tengah ramai ibu kota. Waktu berjalan, Semarang bawah hari ini membawa cerita.

Sedari pagi, atau bahkan kemarin malam, aku memersiapkan hal yang perlu di bawa untuk psikotes beasiswa astra1st hari ini. Malam kemarin ada sedikit ragu hinggap di hati ini, jika aku keterima nantinya, apakah waktuku akan tersita banyak untuknya? Iya, hanya itu kekhawatiran besar yang aku takutkan. Namun otak ini masih mengiyakan, ikhtiar tuh kayak gini, katanya. Hingga menjelang waktu terjadwal pagi ini, aku masih sibuk dengannya.

Singkat, tes itu dilakukan lebih kurang dua jam, dan pengumuman dikabarkan siang ini juga. Menghabiskan waktu, kami berempat mengambil langkah ke citra land, dekat simpang lima ibu kota. Setelah membuang sedikit uang dan waktu, kami menuju masjid agung ibu kota. Siang itu aku banyak menyadari hal-hal yang patut aku syukuri saat ini. Banyak orang yang masih dibawah kita, berjuang keras untuk sesuap nasi untuk keluarganya. Menyadari betapa banyak orang yang belum diberi hidayah dan atau tak mau mengambil hidayah dariNya, menjadi budak trend untuk terus menerus menghamba pada dunia.

Pengumuman tahap selanjutnya, FGD telah dipost, dan…doaku siang itu terkabulkan saat itu pula. Aku mengucap siang itu, dengan lirih, jika ini membuatku jauh dariMu, maka gagalkanlah…dan tak sampai sepuluh menit berselang, doaku tekabul. Hampir 12 jam yang kuhabiskan untuknya bukanlah berakhir kesedihan. Ada ujian psikologi yang lebih kompleks dari psikotes itu sendiri, bagaimana kita mengatur situasi diri kita di tengah hiruk pikuk dunia yang melelahkan ini, bagaimana kita bisa mengambil satu jalan yang benar diantara ribuan atau bahkan jutaan jalan yang salah saat ini.

Dan sebaik baik penilaian manusia, entah menggunakan metode pendekatan psikologis manusia secanggih apapun untuk menilai manusia, masih kalah jauh dengan penilaian dari Allah. Ada yang lebih penting dari sekadar lolos atau tak lolos seleksi, yaitu saat kita lolos dan tak lolos, apakah kita diridhoi oleh Allah? Apakah ada prasangka baik dibalik kegagalan? Apakah ada syukur dibalik kesuksesan?

Allah barangkali tak meloloskanku saat ini, karena barangkali saat aku lolos, aku justru akan kufur dan menjauh dariNya. Banyak pelajaran yang aku ambil dari perjalanan singkat ini, yang semoga menjadi bekal aku kedepan, menjadi manusia yang siap dan tersiapkan. Semangat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s