Langit dan Bumi


Ada bagian dalam cerita hidup yang menarikku terus tertanam di bumi, membumi. Ada bagian lain yang membawaku ke langit, melangit. Bumi dan langit bukanlah hal yang seharusnya dipisah-pisahkan, karena kedua hal ini saling melengkapi: Langit yang indah saat kita lihat dari bumi, dan bumi yang indah karena kita lihat dari langit. Hari-hari yang terlalui seakan membisikkan sesuatu kepadaku tentang dua unsur ini.

Langit

Cerita-cerita yang diukir dalam beberapa tahun terakhir terkadang menyeruak dalam waktu-waktu tertentu, membuatku tertegun, betapa aku dikuatkan oleh Allah dalam perjalanan besalan jam Semarang – Tasikmalaya untuk mencari sedikit ilmu energi terbarukan. Banyak jalan-jalan yang melintas begitu saja di depan lamunanku, jalan pantura yang gelap saat perjalanan survey aliran air di daerah Pemalang, atau jalan Semarang – Jogja yang dihabiskan dengan kantukku dalam bus, atau senyap dini hari jalanan gunung pati yang mencekam. Banyak hal luarbiasa yang membawa diri ini melangit karena masih bisa diberi kesempatan untuk berbuat lebih.

Bumi

Banyak kenangan menyeruak disini, tapi aku coba menahannya. Di jalan-jalan yang belasan tahun aku lalui tiap hari, ada bayangan diriku saat kecil sedang bersama orangtuaku yang berada di depan lamunanku. Ada hal-hal lain yang membuat diri ini melihat bumi dengan indah, melalui hari dengan kesederhanaan. Masih terus diingatkan dengan betapa banyak orang yang tak seberuntung aku saat ini. Iya, mereka membuatku tertarik ke bumi.

Kadang saat melangkit aku lupa detail kecil yang ada, seperti bersyukur. Bersyukur atas nikmat yang telah Allah beri. Iya, banyak, nikmat untuk segala apa yang aku lihat, apa yang didengar, apa yang dicium, apa yang dirasa, dan semua yang bisa dilakukan saat ini adalah nikmat. Alhamdulillah.

Membumikan Langit

Mungkin ada tujuan lain yang mengesankan bahwa seharusnya kita membumikan langit. Pencapaian yang didapat selama ini sudah seharusnya disyukuri dan untuk melakukan hal-hal bermanfaat di bumi, karena setinggi-tinggi manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Maka, bagaimana?

Orang yang meraih apa-apa yang tak orang lain raih, pasti mengorbankan sesuatu yang orang lain mungkin tak melihatnya. Sehingga orang lain menganggap orang itu hebat, namun nyatanya kita sama, kita hanya memilih untuk beberapa hal yang bisa kita pilih: Tidur 8 jam perhari atau 5 jam perhari, bangun atau tidur lagi, browsing tanpa tujuan atau membaca sesuatu bermanfaat, berbuat kebaikan atau diam saja. Kita sama saja, kita hanya terpisahkan oleh pilihan pilihan yang kita pilih sendiri.

Bahkan, setiap diri bisa menjadi siapapun yang kita mau, atau bahkan lebih hebat dari role model kita. Pertanyaanya, maukah kita? Karena mampu, sudah pasti mampu–selama niat itu baik dan tekad yang sudah digenggam. Iya, maukah kita menghabiskan seluruh hidup kita untuk seperti dan melampaui role model kita?

Jalan Baru

Sayangnya aku memilih jalanku sendiri, jalan baru. Tak seperti Pak Rudy Habibie yang berjuang di bidang konstruksi ringan, tak seperti Pak Khoirul Anwar yang berkutik dengan transformasi fourier, bukan seperti Pak Yogi Ahmad Erlangga yang berkutat dengan persamaan matematis. Biarkan aku memilih jalanku sendiri.

Ingat selalu, kita semua sama. Orang yang berlari tak selalu terbaik, karena barangkali banyak detail yang tertinggal yang lebih diperhatikan oleh orang yang dibelakangnya. Orang yang diatasmu tak selalu lebih baik darimu, karena ada bahan bakar masing-masing orang yang tak dapat terlihat: Niat. Iya, karena banyak hal orang melangit bukan membawa ia kembali ke bumi, tapi membawa terbang tak terarah, ke daerah zero gravity.

Maka, jika (aku) masih berlari dan membawa niat sang masih salah, berhentilah. Niatkan niatan baru, karena waktu adalah pedang, ia bisa mematikan musuh, atau malah bisa mematikan diri ktia sendiri. Waktu juga seperti seutas tali panjang yang tak mungkin kita kembali, bukan seperti roda yang terus berputar tanpa henti.

Maka tinggalkan, tinggalkan pencapaian yang telah kita capai hari yang lalu. Hari ini adalah bagian baru yang belum pernah ada sebelumnya. Seperti seorang ibu yang baru pertama kali mengemong anaknya sendiri, seperti hari pertama anak SD yang mencoba sendiri, seperti seorang pelancong yang pertama kali menapakkan kaki di suatu tempat.

Jika kemarin kita sudah setinggi langit, maka subuh ini kita semua sama kembali. Kebaikan-kebaikan kita sudah dicatat, keburukan kita telah dicatat, niat kita sudah dicatat. Maka penuhkan energimu untuk berbuat yang lebih baik dari kemarin, cek bahan bakar ambisimu, apakah dari air atau ikatan hidrokarbon. Karena itu yang paling penting dalam sebuah perjalanan seharian ini. Dan semoga, saat melangit nanti, kita masih bsa mengontrol ambisi kita, untuk kembali ke bumi, memberi manfaat. Dan terpenting, semoga terus istiqomah menjaga ambisi dunia kita, yang hanya digunakan sebagai perantara kita di kehidupan akhirat kelak.

Muhammad Alfin, Ramadhan 1437H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s