Subuh yang Berbeda.


Sore itu bulan Oktober, di sebuah perumahan yang cukup tenang. Hujan mengguyur cukup lama, membuat suasana sore menjelang petang itu semakin syahdu. Remang-remang gerombolan anak-anak SD-SMP mulai bergegas menuju mushola kecil di perumahan mereka. Seperti biasa, semburat awan sore itu pecah tatkala suara-suara merdu anak itu berbunyi, mengumandangkan adzan, tanda waktu magrib telah tiba.

Seusai shalat, gerombolan anak tadi mengerumuni seorang bapak dengan anak-anaknya yang berbaris rapi di shaf paling depan.

“Pak, nanti kita ngaji kan pak?” Kata salah seorang anak dari gerombolan itu

“Iya pak Ustadz, ngaji ya pak abis ini pak” Tambah anak lainnya

“Iya nanti ya, insyaAllah” Timpal seorang bapak itu.

Tak sampai satu jam berselang, adzan isya berkumandang. Lagi, suara anak-anak yang mengajak kaum muslim untuk shalat dan meraih kemenangan.


Dini hari menjelang, adzan subuh pagi itu mulai bersaut-sautan, namun nampaknya mushola di perumahan itu belum dikumandangkan. Seorang pemuda bergegas untuk bangun, membersihkan muka dan menuju mushola perumahan itu. Nampak dari jauh lampu mushola telah hidup, tanda ada orang yang telah sampai di sana. Sesampainya disana, pemuda itu cukup kaget sekaligus senang, ada pemandangan yang tak biasa ia dapatkan sebelumnya. Seorang anak yang kemarin ngaji berada di hadapannya, hampir menyalakan speaker untuk mengumandangkan adzan subuh.

“Mas, mas aja yang adzan mas, hehe” Kata anak itu

“Oh gitu, iya” Jawab singkat pemuda itu

Kemudian mereka dan beberapa jamaah lain menunaikan shalat subuh berjamaah. Dan hari-hari itu berulang, kadang mereka ngaji selepas maghrib sampai isya, kadang mereka libur.


Iya, betapa hanya dengan ngaji; membaca al quran, atau menghafalnya, kita pasti akan mendapat motivasi untuk melakukan ketaatan lainnya. Faidah lainnya adalah kita bisa mengukur amal ibadah kita, apakah amal ibadah kita diterima atau tidak oleh Allah? Salah satu amalan kita diterima adalah seperti yang dikatakan al Hasan al Bashri:

“Sesungguhnya diantara balasan amalan kebaikan ialah (dimudahkan Allah) melaksanakan kebaikan setelahnya. Dan diantara hukuman atas perbuatan buruk ialah melakukan keburukan setelahnya. Maka, apabila Allah telah menerima (Amalan dan Taubat) seorang hamba, niscaya Allah akan memberinya taufiq untuk melaksanakan ketaatan (kepada-Nya), dan memalingkannya dari perbuatan maksiat (kepada-Nya).”

Seharusnya kita malu, yang notabene lebih tua dari anak-anak itu, sudah sampai mana kita? Apakah benar kita memiliki motivasi kuat seperti anak-anak itu? Lalu, bagaimana shalat wajib kita? Benarkah sudah kita tegakkan dengan ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan nabi muhammad), apakah ciri ibadah yang diterima itu sudah kita dapati?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s