Perjalanan Sebuah Doa


“Adapun dengan nikmat Rabb-mu, maka ceritakanlah” (QS. Ad Dhuha:11)

Bismillah.

Iblis Saja Berdoa dan Dikabulkan, Mengapa Kita Tidak?  Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan” Maka Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (Al-A’raf: 14-15)

Kata orang, mengulang-ulang do’a Itu seperti mengayuh sepeda, suatu saat pasti sampai tujuan. Dan ternyata perjalanan do’aku tak lebih dari satu semester. Perjalanan yang cukup panjang, bisa jadi cukup pendek. Pernah dalam perjalanan itu aku terjatuh, berkali-kali, dan bangkit lagi berkali-kali. Rasanya cukup lelah, tapi ini adalah salah satu bukti, bahwa Allah tak mungkin ingkar terhadap apa yang telah ia firmankan: berdoalah kalian kepada ku, pasti akan aku kabulkan (QS. Al Mukmin:60)

Tidak ada seorangpun yang berdoa dengan sebuah dosa yang tidak ada dosa di dalamnya dan memuutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengabulkan salah satu dari tiga perkara, [1] baik dengan disegerakan baginya (pengabulan doanya) di dunia atau [2]dengan disimpan baginya (pengabulan doanya) di akhirat atau [3] dengan dijauhkan dari keburukan semisalnya”, para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu kami akan memperbanyak doa?” Beliau menjawab: “Allah lebih banyak (pengabulan doanya) (HR. Ahmad)

Jikalau kata motivator-motivator itu kau tuliskan 100 harapan dikertas lalu kau tempel di tembok kamar kosmu, aku rasa tak perlu seribet itu. Cukup tengadahkan tangan kita di waktu-waktu dan tempat-tempat mustajabnya doa. Apa yang sulit bagi Allah saat Ia telah berkehendak?

img_0035

Menang?

Bukan. Ini bukanlah kemenangan hakiki. Hayya ‘Alal Falah” (mari meraih kemenangan) itulah seruan sang muadzin yang mengajak kita untuk selalu meraih kemenangan yang hakiki. Iya, dengan mendirikan shalat kita berarti menuju sebuah kemenangan dunia dan akhirat.

Sombong?

Bagaimana bisa aku sombong saat semua nikmat ini dariNya? kemampuanku dariNya? dan segala yang aku tempuh adalah takdirNya? Bagaimana bisa aku sombong, saat semua pencapaian ini barangkali adalah bukan dari usahaku, tapi doa-doa orangtua yang mereka panjatkan tiap dini hari? Teringat salah satu kutipan: Setiap kali kamu merasa beruntung, percayalah doa ibumu telah didengar dan dikabulkan olehNya. Iya. Bagaimana bisa aku sombong jika demikian?

Namun ada satu hal yang perlu kita sadari, sesungguhnya nikmat Allah tidak lain hanyalah dua: Nikmat karena ketaatan kita padaNya, yang membawa hambaNya lebih mendekatkan diri padaNya, atau istidraj, “nikmat” yang Allah beri pada hambaNya agar ia terus menjauh dan menjauh dari Rabbnya.

Terakhir, semoga pencapaian ini adalah nikmat yang mendekatkan diri kita kepadaNya. Semoga kita terus berkarya semata-mata ikhlas untuk membantu orang lain, berkontribusi ke masyarakat dan menjadi amal jariyah, membahagiakan orang tua, dan mengharap jannahNya.

Semoga kita semua juga terhindar dari sifat hasad dan ‘ain yang sangat berbahaya dampaknya pada diri kita pribadi. Aku berlindung dari keburukan diri ini, dari apa yang aku dengar, apa yang aku lihat, apa yang aku ucap, apa yang aku tulis, dan apa yang hatiku perbuat atas sesuatu. Semoga kita terus berada di jalan keikhlasan, semata-mata untuk memotivasi dan berdakwah pada orang lain. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s